Jumat, 10 Juni 2011

Para Tokoh Dan Perannya Dalam Perkembangan Islam Di Indonesia

1. Walisongo (Wali Sembilan)

Di kalangan masyarakat Islam Jawa, banyak orang mempercayai bahwa wali yang menyebarkan Islam di Jawa berjumlah sembilan orang, sesuai dengan kata “songo”. Sebenarnya jumlah mereka tidak tepat sembilan, tetapi lebih. Namun lebih dikenal adalah sembilan wali (wali songo).

  1. Sunan Gresik (Malik Ibrahim, Maulana)

Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Magribi yang dalam babad Jawa disebut Makdum Brahim Asmara. Beliau adalah saudara Maulana Ishak dengan memperistri putri Campa dan melahirkan dua orang putra, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Syaid Aki Murtadha atau Raden Santri. Beliau adalah putra dari Raden Jumadil Qubro. Maulana Malik Ibrahim datang ke Jawa tahun 1404 M yang menurut Babad Tanah Jawi bukan datang dari Campa, tetapi menurut namanya beliau berasal dari Samarkandi di Asia Kecil. Pernyataan dari Babad Tanah Jawi tidak bertentangan, sebab dari Asia Kecil beliau bermukim dulu di Campa. Maulana Malik Ibrahim menyebarkan agama Islam dengan cara melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat yang diajaknya. Beliau dakwah dengan diplomasi yang ulung, tidak menyinggung perasaan orang yang didakwahnya, bahkan membesarkan hati. Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi ilmu yang dimiliki oleh syekh Maulana Malik Ibrahim. Hal ini dapat diketahui dalam kisah-kisah yang pernah dialaminya, misalnya dalam kisah tentang Kepala perampok. Maulana Malik Ibrahim tidak turun sendiri dalam menghadapinya, tetapi murid-muridnya saja dapat mengalahkan kepala perampok. Maka, dapat disimpulkan betapa saktinya dia. Maulana Malik Ibrahim wafat tahun 1419 M dan dimakamkan di Gresik pada nisanya terdapat tulisan Arab yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang penyebar agama yang cakap dan gigih. Dalam bahasa Indonesia tulisan itu berbunyi :”inilah makam almarhum almagfur yang berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para pangeran, sendi pada sultan dan para menteri, penolong para fakir miskin, yang berbahagia dan syahid cemerlangnya simbol negara dan agama” Maulana malik ibrahim terkenal dengan nama Kake Bantal.

b. Sunan Ampel (Campa Aceh, 1401- Ampel, Surabaya 1481 M)

Nama aslinya Raden Rahmat. Ia adalah putra Maulana Malik Ibrahim dari istrinya bernama Dewi Candrawulan. Sunan Ampel adalah penerus cita-cita serta perjuangan Maulana Malik Ibrahim dan terkenal sebagai perencana pertama kerajaan Islam di Jawa; ia memulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat Surabaya, sehingga ia dikenal sebagai pembina pondok pesantren pertama di Jawa Timur. Di pesantren inilah Sunan Ampel mendidik para pemuda Islam untuk menjadi tenaga da’i yang akan disebar ke seluruh Jawa. Diantara pemuda yang dididik itu tercatat antara lain Raden Paku yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Giri, Raden yang kemudian menjadi sultan pertama kesultanan Islam di Bintoro, demak, Raden Makdum Ibrahim (Putra Sunan Ampel sendiri) yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Bonang Syaridudin yang kemudian dikenal dengan Sunan Drajat, Maulana Ishak yang pernah diutus ke daerah blambangan untuk mengislamkan rakyat di sana dan banyak lagi mubalig yang mempunyai andil besar dalam Islamisasi Pulau Jawa. Sunan Ampel tercatat sebagai perancang Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dengan ibu kota di Bintoro, Demak. Dialah yang mengangkat Raden Fatah sebagai sultan pertama Demak, yang dipandang punya jasa paling besar dalam meletakkan peran politik umat Islam di Nusantara. Disamping itu Sunan Ampel juga ikut mendirikan Masjid Agung Demak pada tahun 1479 bersama wali-wali yang lain. Ketika mendirikan Masjid tersebut, para wali mengadakan pembagian tugas. Sunan Ampel diserahi tugas memuat salah satu dari saka guru (tiang kayu raksasa) yang kemudian dipasang di bagian tenggara. Tiga tiang besar yang lain dikerjakan oleh Sunan Kalijaga untuk tiang sebelah timur laut (bukan berupa tiang utuh, tetapi berupa beberapa balok yang diikat menjadi satu yang disebut “saka tatal”) Sunan Bonang untuk tiang sebelah barat timur, Sunan Gunung Jati untuk tiang sebelah barat daya, sementara bagian-bagian lain masjid dikerjakan oleh para wali yang lain

c. Sunan Bonang (Ampel Denta, Surabaya 1465 – Tuban 1525)

Dianggap sebagai pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam di pesisir utara Jawa Timur. Ia adalah putra Raden Rahmat dari perkawinannya dengan Dewi Candrawati dan merupakan Saudara sepupuh Sunan Kalijaga. Ia terkenal dengan nama Raden Maulana Makhdum Ibrahim atau Raden Ibrahim (Makhdum adalah gelar yang biasa diberikan kepada seorang ulama besar di India dan berarti orang yang dihormati). Dari perkawinannya dengan Dewi Hiroh ia memperoleh seorang putri bernama Dewi Rukhil yang kemudian diperistri Sunan Kudus. Setelah belajar Islam di Pasai, Aceh Sunan Bonang kembali ke Tuhan, Jawa Timur untuk mendirikan pondok pesantren. Santri-santri yang menjadi muridnya berdatangan dari berbagai daerah. Setelah sunan Ampel wafat, pesantren yang ditinggalkannya tidak lagi mempunyai pemimpin resmi. Maka untuk mengisi kekosongan itu, Sunan Bonang memprakarsai musyawarah para wali untuk membicarakan siapa yang akan memimpin pesantren tersebut. Hasil musyawarah wali memutuskan untuk mengangkat Raden Fatah menjadi pengganti almarhum Sunan Ampel. Sunan Bonang memberikan pendidikan Islam secara mendalam kepada Raden Fatah, putra raja Majapahit Prabu Brawijaya V yang kemudian menjadi sultan pertama Demak. Catatan-catatan pendidikan tersebut kini dikenal dengan “Suluk Sunan Bonang” atau “Primbon Sunan Bonang” Isi buku tersebut berbentuk prosa ala Jawa Tengah, kalimatnya sangat banyak dipengaruhi bahasa Arab, dan sampai sekarang masih tersimpan di Universitas Leiden Negeri Belanda.

d. Sunan Giri (Blambangan, Pertengahan abad Ke-15 – Giri 1500 M)

Nama aslinya Raden Paku, disebut juga Prabu Satmata dan kadang-kadang disebut Sultan Abdul Fakih. Ia adalah putra dari Maulana Ishak yang ditugaskan Sunan Ampel untuk mengembangkan agama Islam di Blambangan. Salah seorang saudaranya juga termasuk Walisongo, yaitu Raden Fatah (Sunan Gunung Jati) dan ia mempunyai hubungan keluarga dengan Raden Fatah karena istri mereka bersaudara.Ketika usianya beranjak dewasa, Raden Paku belajar agama di Pondok Pesantren Ampel Denta (pimpinan Sunan Ampel) dan disana bertema baik degan Raden Maulana Makdum Ibrahim, putra Sunan Ampel yang kemudian terkenal dengan Sunan Bonang. Dalam suatu perjalanan ibadah haji menuju Mekah, kedua santri ini lebih dahulu memperdalam pengetahuan di Pasai yang ketika itu menjadi tempat berkembangnya ilmu ketuhanan, keimanan dan tasawuf. Disini Raden Paku sampai pada tingkat ilmu laduni sehingga gurunya menganugrahinya gelar Ai Al Yaqin karena itulah ia kadang-kadang dikenal masyarakat dengan sebutan Raden Ainul Yakin. Sunan Giri terkenal sebagai pendidik yang berjiwa demokratis. Ia mendidik anak-anak melalui berbagai permainan yang berjiwa agama. Misalnya jelungan, jamuran, gendi ferit, jor, gula ganti, cublak-cublak suweng, ilir-ilir dan sebagainya. Ia juga dipandang sebagai orang yang sangat berpengaruh terhadap jalannya roda kesultanan Demak Bintoro (Kesultanan Demak) sebab setiap kali muncul masalah penting yang harus diputuskan wali yang lain selalu menantikan keputusan dan pertimbangannya.

e. Sunan Drajat (Ampel Denta, Surabaya, sekitar Tahun 1470 Sedayu, Gresik pertengahan abad ke-16)

Nama aslinya Raden Kosim atau Syarifudin tetapi karena ia dimakamkan di daerah Sedayu, maka kebanyakan masyarakat awam mengenalnya sebagai Sunan Sedayu.Menurut Silsilah, Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel dari istri kedua bernama Dewi Candrawati. Ia mempunyai enam saudara seayah seibu diantaranya Siti Syareat (istri Raden Usman Haji), Siti Mutma’innah (Istri Raden Muhsin), Siti Sofiah (istri Raden Usman Ahmad, Sunan Malaka), dan Raden Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), disamping itu ia mempunyai dua orang saudara seayah lain ibu yaitu Dewi Murtasiyah (istri Raden Fatah) dan Dewi Murtasimah (istri Raden Paku atau Sunan Giri), Istrinya sendiri Dewi Sifiyah adalah putri Sunan Gunung Jati. Hal yang paling menonjol dalam dakwah Sunan Drajat adalah perhatiannya yang sangat serius pada masalah-masalah sosial. Ia terkenal mempunyai jiwa sosial dan tema-tema dakwahnya selalu berorientasi pada kegotongroyongan. Ia selalu memberi pertolongan kepada umum, menyantuni anak yatim dan fakis miskin sebagai suatu proyek sosial yang dianjurkan agama Islam.

f. Sunan Kalijaga (akhir Abad ke-14 Pertengahan abad ke-15)

Terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, berpandangan jauh berpikiran tajam, intelek, serta berasal dari suku Jawa Asli. Nama Kalijaga konon berasal dari rangkaian bahasa Arab qadi zaka yang berarti pelaksana dan membersihkan. Qadizaka yang kemudian menurut lidah dan ejaan menjadi Kalijaga berarti pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kebersihan atau kesucian. Nama Asli Sunan Kalijaga adalah Raden Mas Syahid dan kadang-kadang dijuluki Syekh Malaya. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilatikta yang menjadi bupati Tuban, sedang ibunya bernama Dewi Nawang Rum. Daerah operasi dakwah Sunan Kalijaga tidak terbatas, bahkan sebagai mubaligh ia berkeliling dari satu daerah ke daerah lain. Karena sistem dajwahnya yang intelek dan aktual maka para bangsawan dan cendekiawan sangat simpati terhadapnya, demikian juga lapisan masyarakat awam, bahkan penguasa, berdakwahnya tidak monoton, sesekali diisi dengan cerita-cerita humor yang mendidik, sekaligus menarik perhatian. Jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian bukan hanya terlihat pada wayang dan gamelan, tetapi juga dalam seni suara, seni ukir, seni busana, seni pahat dan kesusastraan. Banyak corak batik yang oleh Sunan Kalijaga diiberi motif burung. Burung dalam bahasa Kawi disebut kukula. Kata tersebut ditulis dalam Bahasa Arab menjadi qu dan qila yang berarti “peliharalah ucapanmu sebaik-baiknya” dan menjadi salah satu ajaran etik Sunan Kalijaga melalui corak batik.

g. Sunan Kudus (Abad ke-15 – Kudus 1550)

Nama aslinya Ja’far Sadiq, tetapi sewaktu kecil dipanggil Raden Undung. Kadang-kadang ia dipanggil dengan Raden Amir Haji, sebab ketika menunaikan ibadah haji ia bertindak sebagai pimpinan rombongan (amir). Sunan Kudus adalah putra Raden Usman Haji, yang menyiarkan Islam di daerah Jipang Panolan, Blora. Menurut silsilah Sunan Kudus masih mempunyai hubungan keturunan dengan Nabi Muhammad SAW. Silsilah selengkapnya : Ja’far Sadiq bin Raden Usman Haji bin Raden Pendeta bin Ibrahim as-Samarkandi bin Maulana Muhammad Jumadalkubra bin Zaini Al-Husein bin Zaini Al-Kubra bin Zainul Alim bin Zainul Abidin bin Sayid Husein bin Ali ra. Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya dan dia memiliki keahlian khusus dalam bidang ilmu agama, terutama dalam ilmu fikih, usul fikih, tauhid, hadits, tafsir, serta logika. Karena itulah diantara Walisongo hanya ia yang mendapat julukan Wal Al-ilmi (orang yang luas ilmunya) dan karena keluasan ilmunya ia didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai daerah di Nusantara. Disamping menjadi juru dakwah, Sunan Kudus juga menjadi panglima perang Kesultanan Demak Bintoro yang tangguh dan dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan sekaligus pemimpin agama di daerah tersebut.

h. Sunan Muria (abad ke-15 – abad ke-16)

Salah seorang Walisongo yang banyak berjasa dalam menyiarkan Islam di pedesaan Pulau Jawa adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Said, atau Raden Said sedang nama kecilnya adalah Raden Prawoto, namun ia lebih terkenal dengan nama Sunan Muria karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung Muria (18 km di sebelah utara kota Kudus sekarang). Sunan Muria juga terkenal sebagai pendukung setia Kesultanan Demak Bintoro dan berperan serta dalam mendirikan Masjid Demak. Dalam rangka dakwah melalui budaya ia menciptakan tembang dakwah Sinon dan Kinanti.

i. Sunan Gunung Jati (Mekah, 144-Gunung Jati, Cirebon Jawa Barat 1570)

Salah seorang dari Walisongo yang bayak berjasa dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa terutama di Jawa Barat juga pendiri kesultanan Cirebon. Nama aslinya Syarif Hidayatullah dialah pendiri Dinasti Raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten. Sunan Gunung Jati adalah cucu raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Dari perkawinan Prabu Siliwangi dengan nyai Subang Larang, lahirlah dua putra dan satu putri, masing-masing bernama Raden Walangsungsang, Nyi Lara Santang dan Raja Sengara. Setelah Nyai Subang Larang wafat, Raden Walangsungsang keluar dari keraton tidak lama setelah itu adik perempuannya menyusul. Keduanya belajar agama Islam kepada Syekh Datu Kahfi (Syekh Nurul Jati) di Gunung Jati Ngamparan Jati. Setelah 3 tahun belajar, mereka diperintahkan gurunya utuk ibadah haji ke Mekah. Di Mekah, Nyai Lara Santang mendapat jodoh yaitu Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah) seorang bangsawan Arab yang berasal dari Bani Hasyim. Setelah menunaikan ibadah Haji, Raden Walangsungsang kembali ke Jawa dan menjadi juru labuhan di Pasambangan yang kemudian berkembang menjadi Cirebon. Sementara itu Nyai Larang Santang melahirkan Syarif Hidayatullah setelah dewasa, Syarif Hidayatullah memilih berdakwah ke Jawa daripada menetap di tanah Arab. Dia kemudian menemui Raden Walangsungsang yang sudah bergelar Pangeran Cakrabuana. Setelah pamannya itu wafat, ia menggantikan kedudukannya dan kemudian berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kesultanan, ia kemudian terkenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. Menurut Purwaka Caruban Nagari, Sunan Gunung Jati sebagai salah seorang Walisongo mendapat penghormatan dari raja-raja lain di Jawa seperti Kerajaan Demak dan Pajang. Karena kedudukannya sebagai raja dan ulama ia diberi gelar Raja Pandita.

Sejarah Islam – Awal Mula Islam di Indonesia

Sejarah Awal Mula Islam – Tahukah Anda tentang Awal Mula Sejarah Islam di dunia maupun sejarah masuknya islam di Indonesia? Pada kesempatan kali ini awalmula.com akan berbagi informasi untuk menambah ilmu pengetahuan kita terutama tentang sejarah agama islam. Karena mempelajari sejarah sangatlah penting sebagaimana firman Allah SWT dalam kitab suci al-Qur’an ayat 111 yang artinya “mempelajari sejarah terdapat ibrah (pelajaran). Mengapa demikian? Karena dengan mempelajari sejarah di masa lampau, kita dapat mengambil pelajaran untuk masa yang akan datang sebagai planning atau konsep yang lebih baik. Dan tentunya kita semua tahu hadist Rasulullah SWT yang berbunyi “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini”. Untuk itu marilah kita selalu mempelajari sejarah-sejarah yang ada didunia sebagai konsep hidup yang lebih baik.

Risalah Islam dilanjutkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. di Jazirah Arab pada abad ke-7 masehi ketika Nabi Muhammad saw mendapat wahyu dari Allah swt. Setelah kematian Rasullullah s.a.w. kerajaan Islam berkembang hingga Samudra Atlantik dan Asia Tengah di Timur.

Namun, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottoman, Kemaharajaan Mughal, India,dan Kesultanan Melaka telah menjadi kerajaaan yang besar di dunia. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutama pada Zaman Emas Islam. Karena banyak kerajaan Islam yang menjadikan dirinya sekolah.

Di abad ke-18 dan 19 masehi, banyak daerah Islam jatuh ke tangan Eropa. Setelah Perang Dunia I, Kerajaan Ottoman, yaitu kekaisaran Islam terakhir tumbang.

Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang dilewati oleh jalur sutera. Kebanyakkan Bangsa Arab merupakan penyembah berhala dan sebagian merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi. Mekah adalah tempat suci bagi bangsa Arab ketika itu karana terdapat berhala-berhala mereka dan Telaga Zamzam dan yang paling penting sekali serta Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim beserta Ismail.

Nabi Muhammad saw. dilahirkan di Mekah pada Tahun Gajah yaitu 570 masehi. Ia merupakan seorang anak yatim sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia. Muhammad akhirnya dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib. Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dan menjalani kehidupan yang bahagia.

Namun, ketika Nabi Muhammad saw. berusia 40 tahun, beliau didatangi Malaikat Jibril Sesudah beberapa waktu Muhammad mengajar ajaran Islam secara tertutup kepada rekan-rekan terdekatnya, yang dikenal sebagai “as-Sabiqun al-Awwalun(Orang-orang pertama yang memeluk Islam)” dan seterusnya secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekah.

Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya hijrah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah. Peristiwa lain yang terjadi setelah hijrah adalah pembuatan kalender Hijirah.

Penduduk Mekah dan Madinah ikut berperang bersama Nabi Muhammad saw. dengan hasil yang baik walaupun ada di antaranya kaum Islam yang tewas. Lama kelamaan para muslimin menjadi lebih kuat, dan berhasil menaklukkan Kota Mekah. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, seluruh Jazirah Arab di bawah penguasaan Islam.

Sejarah Masuknya Islam di Indoonesia:

1. Babak pertama, abad 7 masehi (abad 1 hijriah).

Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Dai yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir Nusantara.

Sejak awal Islam tidak pernah membeda-bedakan fungsi seseorang untuk berperan sebagai dai (juru dakwah). Kewajiban berdakwah dalam Islam bukan hanya kasta (golongan) tertentu saja tetapi bagi setiap masyarakat dalam Islam. Sedangkan di agama lain hanya golongan tertentu yang mempunyai otoritas menyebarkan agama, yaitu pendeta. Sesuai ungkapan Imam Syahid Hasan Al-Bana “ Nahnu du’at qabla kulla syai“ artinya kami adalah dai sebelum profesi-profesi lainnya.

Sampainya dakwah di Indonesia melalui para pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang sambil membawa dagangannya juga membawa akhlak Islami sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang Islami. Masyarakat ketika berbenalan dengan Islam terbuka pikirannya, dimuliakan sebagai manusia dan ini yang membedakan masuknya agama lain sesudah maupun sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh masuknya agama Kristen ke Indonesia ini berbarengan dengan Gold (emas atau kekayaan) dan glory (kejayaan atau kekuasaan) selain Gospel yang merupakan motif penyebaran agama berbarengan dengan penjajahan dan kekuasaan. Sedangkan Islam dengan cara yang damai.

Begitulah Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas muslim yang berada di daerah-daerah pesisir berkembang menjadi kota-kota pelabuhan dan perdagangan dan terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam dari mulai Aceh sampai Ternata dan Tidore yang merupakan pusat kerajaan Indonesia bagian Timur yang wilayahnya sampai ke Irian jaya.

2. Babak kedua, abad 13 masehi.

Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di Nusantara. Yang merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya didaerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal.

Pada abad 13 Masehi ada fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan dakwah di Indonesia. Wali Songo mengembangkan dakwah atau melakukan proses Islamisasinya melalui saluran-saluran:

a) Perdagangan

b) Pernikahan

c) Pendidikan (pesantren)

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya indonesia, dan juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran Islam. Ini membuktikan Islam sangat menghargai budaya setempat selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

d) Seni dan budaya

Saat itu media tontonan yang sangat terkenal pada masyarakat jawa kkhususnya yaitu wayang. Wali Songo menggunakan wayang sebagai media dakwah dengan sebelumnya mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam. Yang menjadi ciri pengaruh Islam dalam pewayangan diajarkannya egaliterialisme yaitu kesamaan derajat manusia di hadapan Allah dengan dimasukannya tokoh-tokoh punakawam seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Para Wali juga menggubah lagu-lagu tradisional (daerah) dalam langgam Islami, ini berarti nasyid sudah ada di Indonesia ini sejak jaman para wali. Dalam upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai Islam.

e) Tasawwuf

Kenyatan sejarah bahwa ada tarikat-tarikat di Indonesia yang menjadi jaringan penyebaran agama Islam.

3. Babak ketiga, masa penjajahan Belanda.

Pada abad 17 masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda kedaerah Nusantara yang awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu hampir seluruh wilayah nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.

Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para Ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, mengubah pesantren-pesantren menjadi markas-markas perjuangan, santri-santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap penjajah adalah kaum muslimin beserta ulamanya.

Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad 13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan-kerajaan Islam yang syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama menggelorakan Jihad melawan kaum kafir yaitu penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:

Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan Ulama dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.

Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru Besar keIndonesiaan di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.

4. Babak keempat, abad 20 masehi

Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya adalah hanya membuat lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al-Qur’an dan hadist dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah. Selain itu juga mempersiapkan untuk lapisan birokrasi yang tidak mungkin pegang oleh lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat pendidikanpun tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang pemimpin-¬pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan bangsawan.

Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat organisasi formal daripada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo yang bersifat masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam dapat disebut organisasi pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo.

Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto yang memimpin organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam di bawah pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai pada sumpah pemuda tahun 1928.

Dakwah Islam di Indonesia terus berkembang dalam institusi-institusi seperti lahirnya Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Lembaga-lembaga ke-Islaman tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam ‘Ala Indonesia) yang kemudian berubah namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang anggotanya adalah para pimpinan institusi-institusi ke-Islaman tersebut.

Di masa pendudukan Jepang, dilakukan strategi untuk memecah-belah kesatuan kekuatan umat oleh pemerintahan Jepang dengan membentuk kementrian Sumubu (Departemen Agama). Jepang meneruskan strategi yang dilakukan Belanda terhadap umat Islam. Ada seorang Jepang yang faham dengan Islam yaitu Kolonel Huri, ia memotong koordinasi ulama-ulama di pusat dengan di daerah, sehingga ulama-ulama di desa yang kurang informasi dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi.

Pemerintahan pendudukan Jepang memberikan fasilitas untuk kemerdekaan Indonesia dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan dilanjuti dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan lebih mengerucut lagi menjadi Panitia Sembilan, Panitia ini yang merumuskan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Piagram Jakarta merupakan konsensus tertinggi untuk menggambarkan adanya keragaman Bangsa Indonesia yang mencari suatu rumusan untuk hidup bersama. Tetapi ada kalimat yang kontroversi dalam piagam ini yaitu penghapusan “7 kata “ lengkapnya kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya yang terletak pada alinea keempat setelah kalimat Negara berdasarkan kepada Ketuhan Yang Maha Esa.

5. Babak kelima, abad 20 & 21.

Pada babak ini proses dakwah (Islamisasi) di Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi dengan pengaruh-pengaruh gerakan Islam internasional secara efektif yang akan membangun kekuatan Islam lebih utuh yang meliputi segala dimensinya. Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses Islamisasi di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awalnya masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota yang perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian Allah mentakdirkan di Indonesia merupakan jumlah peduduk muslim terbesar di dunia, tetapi masih menjadi tanda tanya besar apakah kualitasnya sebanding dengan kuantitasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar