Jumat, 10 Juni 2011

1. Unsur Biotik

Unsur biotik adalah unsur-unsur makhluk hidup atau benda yang dapat menunjukkan ciri-ciri kehidupan, seperti bernapas, memerlukan makanan, tumbuh, dan berkembang biak. Unsur biotik terdiri atas manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan jasad renik sebagai tumbuhan dapat langsung diambil dan dimanfaatkan, misalnya berbagai jenis sayuran dan buah-buahan dapat langsung dipetik dan dimakan. Namun, sebagian lagi harus melakukan proses pengolahan terlebih dahulu, misalnya hasil pengolahan susu melalui proses tertentu agar agar diperoleh keju.

Berdasarkan pada interaksi dan kemampuannya dalam mengikat energi, unsur biotik dalam lingkungan dapat dibedalan menjadi tiga kelompok, yaitu produsen, konsumen, dan pengurai.

a. Produsen, yaitu organisme atau makhluk hidup yang dapat mensintesis zat makanan sendiri dengan bantuan energy matahari. Produsen dapat mengubah energy matahari melalui proses sintesis menjadi energy kimia. Energy tersebut kemudian digunakan untuk menyusun oksigen dan karbondioksida menjadi karbohidrat sebagai sumber makanan. Produsen pada umumnya adalah tumbuhan hijau yang dapat membentuk bahan makanan (zat organik) melalui fotosintesis.

http://4.bp.blogspot.com/_8PHEgySlp8w/Sy68V9RIwnI/AAAAAAAAADE/rwdQfg_6DAE/s320/default.jpeg

Gambar Hutan sabagai produsen

  1. Konsumen, yaitu organisme yang tidak mampu membuat makanan sendiri atau kelompok organism yang tidak mampu mensintesis makanan sendiri sehingga untuk memenuhi kebutuhan makanan mengambil dari organisme lain, baik dari hewan maupun tumbuhan. Yang termasuk konsumenadalah hewan, manusia, dan organisme heterotrof.

http://1.bp.blogspot.com/_8PHEgySlp8w/Sy7DdDmsROI/AAAAAAAAAEM/3FrA5DJe9N4/s320/zirafah-sedang-makan.jpg

Gambar Hewan dan Manusia sebagai konsumen

  1. Pengurai atau perombak (dekomposer),yaitu organisme yang mampu menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Organisme suatu ekosistem, baik tumbuhan ataupun hewan suatu saat akan mati. Mikro organisme atau pengurai menguraikan senyawa organik menjadi senyawa anorganik. Pengurai tersebut menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepas bahan-bahan yang sederhana yang dapat dipakai oleh produsen. Pengurai terdiri atas bakteri dan jamur.

http://1.bp.blogspot.com/_8PHEgySlp8w/Sy7AeuzKdGI/AAAAAAAAADs/6WoWthLub6c/s320/133.jpg

2. Unsur Abiotik (Fisik)

http://2.bp.blogspot.com/_8PHEgySlp8w/Sy7Ae5XeCyI/AAAAAAAAAD0/zdXf90F_45Q/s320/sun-small.jpg

Unsur abiotik adalah unsur-unsur alam berupa benda mati yang dapat mendukung kehidupan makhluk hidup. Termasuk unsur abiotik adalah tanah, air, cuaca, angin, sinar matahari, dan berbagai bentuk bentang lahan.

Fungsi unsur abiotik (fisik) dalam lingkungan hidup adalah sebagai media berlangsungnya kehidupan. Contoh, tanah diperlukan tumbuh-tumbuhan untuk tempat hidupnya. Air diperlukan oleh tumbuhan untuk mengalirkan zat-zat makanan. Uadara diperlukan tumbuhan untuk bernafas. Dan sinar matahari merupakan sumber energi yang utama yang diperlukan untukmengolah makanan.

http://4.bp.blogspot.com/_8PHEgySlp8w/Sy7AfE2Pz3I/AAAAAAAAAD8/Ozd8VETLy1I/s320/clip-image004.jpg

Gambar 7. Tanah sebagai unsur abiotik

Tumbuh-tumbuhan merupakan sumber makanan dan gizi bagi makhluk hidup lainnya. Apabila aktivitas tumbuhan terganggu akibat unsur biotik yang tidak menunjang maka aktivitas seluruh kehidupan di permukaan bumi akan terhambat. Jadi, makhluk hidup sangat tergantung pada keberadaan unsur abiotik (fisik).

3. Unsur Sosial Budaya

Pada dasarnya unsur sosial budaya pada suatu lingkungan berkaitan dengan hubungan manusia dan lingkungan. Unsur sosial adalah hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat. Unsur budaya dalam lingkungan hidup adalah keseluruhan sistem nilai, gagasan, tindakan, dan kewajiban yang dimiliki manusia untuk menentukan perilaku sebagai makhluk sosial dan dalam kehidupan bermasyarakat yang didapatnya dengan cara belajar. Unsur sosial budaya dapat dikembangkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama untuk kebutuhan pokok dan kemudahan hidupnya. Termasuk unsur sosial budaya adalah adat istiadat serta berbagai hasil penemuan manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

B. Arti Penting Lingkungan

Lingkungan hidup merupakan tempat berinteraksi makhluk hidup yang membentuk suatu sistem jaring kehidupan, yaitu jenis dan jumlah masing-masing unsur lingkungan, interaksi atau hubungan antar unsur dalam lingkungan hidup, prilaku dan kondisi unsur lingkungan hidup dan factor nonmaterial, seperti suhu, cahaya, dan kebisingan.

http://4.bp.blogspot.com/_8PHEgySlp8w/Sy7Af3uIn7I/AAAAAAAAAEE/KuFJXZFosLo/s320/imgcoralreef.JPG

Gambar Ekosistem di dalam laut

Oleh karena itu makhluk hidup tidak dapat dipisahkan dari lingkungannya. Kalian tentu dapat membayangkan, apa yang terjadi jika seekor ikan dikeluarkan dari akuarium, kolam, atau sungai yang merupakan lingkungan hidupnya? Ikan tersebut akan mati, bukan? Hal itu terjadi karena tidak adanya unsur-unsur lingkungan yang mendukung kehidupan ikan tersebut. Meskipun lingkungan bersifat mendukung atau menyokong kehidupan makhluk hidup, namun perlu diingat bahwa tidak semua lingkungan di muka bumi ini memiliki keadaan yang ideal untuk kehidupan makhluk hidup. Dalam hal ini, makhluk hidup yang bersangkutan harus dapat beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya. Sebagai contoh, berdasarkan kondisi fisik pegunungan, kegiatan yang paling sesuai adalah bercocok tanam. Berdasarkan kondisi fisik, masyarakat yang tinggal di daerah pantai menggantungkan kehidupannya pada usaha yang mengeksploitasi potensi laut, seperti menangkap ikan dan membuat tambak ikan air payau atau tambak garam. Manusia yang hidup di daerah dingin seperti di kutub harus mengenakan pakaian yang tebal agar dapat bertahan di hawa dingin; hewan onta mempunyai kemampuan tidak minum selama berhari-hari, hal ini disesuaikan dengan kondisi lingkungan hidup onta, yaitu di padang pasir yang sulit menemukan air; beberapa jenis tumbuhan menggugurkan daunnya saat musim kemarau agar dapat mengurangi penguapan, sehingga pohon tersebut tidak mati karena kekurangan air. Hal-hal tersebut merupakan bentuk adaptasi makhluk hidup terhadap kondisi lingkungan yang beragam di muka bumi. Khusus bagi manusia, adaptasi yang dilakukan terhadap lingkungannya akan menghasilkan berbagai bentuk hasil interaksi yang disebut dengan budaya. Budaya-budaya tersebut, antara lain, berupa bentuk rumah, model pakaian, pola mata pencaharian, dan pola kehidupan hariannya.

Dengan kemampuan yang dimilikinya, manusia tidak hanya dapat menyesuaikan diri. Akan tetapi, manusia juga dapat memanfaatkan potensi lingkungan untuk lebih mengembangkan kualitas kehidupannya. Bagi manusia, selain sebagai tempat tinggalnya, lingkungan hidup juga dapat dimanfaatkan sebagai:

  1. Media penghasil bahan kebutuhan pokok (sandang, pangan, dan papan);
  2. Wahana bersosialisasi dan berinteraksi dengan makhluk hidup atau manusia lainnya;
  3. Sumber energi;
  4. Sumber bahan mineral yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kelangsungan hidup manusia; serta
  5. Media ekosistem dan pelestarian flora dan fauna serta sumber alam lain yang dapat dilindungi untuk dilestarikan.

FILOSOFI

BAB I

KONSEP DAN FILOSOFI EVALUASI

1. Penilaian tidak hanya diarahkan kepada tujuan – tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, tetapi juga terhadap tujuan – tujuan yang tersembunyi, termasuk efek samping yang mungkin timbul.

2. Penilaian tidak hanya melalui pengukuran perilaku siswa, tetapi juga melakukan pengkajian terhadap komponen – komponen pendidikan, baik masukan proses maupun keluaran.

3. Penilaian tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan – tujuan yang telah ditetapkan, tetapi juga untuk mengetahui apakah tujuan – tujuan tersebut penting bagi siswa dan bagaimana siswa mencapainya.

4. Mengingat luasnya tujuan dan objek penilaian, maka alat yang digunakan dalam penilaian sangat beraneka ragam, tidak hanya terbatas pada tes, tetapi juga alat penilaian bukan tes.

Atas dasar itu maka lingkup sasaran penilaian mencakup tiga sasaran pokok,yakni (a) program pendidikan (b) proses belajar mengajar, dan (c) hasil – hasil belajar.

1. Hakikat Evaluasi

Evaluasi hasil belajar dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai keberhasilan belajar setelah ia mengalami proses belajar selama satu periode tertentu.

2. Fungsi Evaluasi dalam Pendidikan

Evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar di sekolah mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut :

  • Untuk mengetahui apakah suatu mata pelajaran yang kita ajarkan dapat kita lanjutkan dengan bahan yang baru ataukah kita harus mengulangi kembali bahan – bahan pelajaran yang telah lampau.
  • Untuk mendapatkan bahan – bahan informasi untuk menentukan apakah seorang anak dapat dinaikkan ke dalam kelas yang lebih tinggi ataukah harus mengulang di kelas semua.
  • Untuk membandingkan apakah prestasi yang dicapai oleh anak – anak sudah sesuai dengan kapasitasnya atau belum.
  • Untuk menafsirkan apakah seorang anak telah cukup matang untuk kita lepaskan ke dalam masyarakat atas untuk melanjutkan ke lembaga yang lebih tinggi.
  • Untuk mengadakan seleksi. Untuk mendapatkan calon – calon yang paling cocok untuk suatu jabatan atau suatu jenis pendidikan tertentu, maka perlulah diadakan seleksi terhadap para calon yang melamar.
  • Untuk mengetahui taraf efisiensi metode yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar kita selalu berusaha untuk mencapai hasil yang sebaik – baiknya.

3. Prosedur Evaluasi

Prosedur dalam mengadakan evaluasi dapat dibagi atas beberapa langkah atau beberapa step. Mengenai pembagian langkah – langkah evaluasi ini ada beberapa pendapat. Yulien Stanley mengatakan bahwa : “Langkah – langkah evaluasi itu terdiri dari penetapan judul program, memilih alat yang layak, pelaksanaan pengukuran, memberikan skor, menganalisa dan menginterprestasikan skor, membuat catatan yang baik dan menggunakan hasil – hasil pengukuran (Yulien Stanley, 1974, hal.299)

Menurut Mochtar Buchari M.Ed, “Langkah – langkah pokok dalam evaluasi terdiri dari perencanaan, pengumpulan data, vertifikasi data, analisa data dan penafsiran data mempergunakan sistematik dari Mochtar Buchari M.Ed, yang membagi prosedur evaluasi atas lima langkah pokok.

Masalah pertama yang harus dilakukan dalam perencanan ialah merumuskan tujuan evaluasi yang hendak dilaksanakan dalam suatu proses belajar mengajar dalam suatu lembaga pedidikan tertentu.

Masalah kedua yang harus dilakukan langkah perencanaan ialah menetapkan aspek – aspek yang harus dinilai.

Masalah ketiga yang harus dilakukan dalam langkah perencanaan ialah menentukan metode evaluasi yang akan dipergunakan.

Masalah keempat dari langkah perencanaan ialah memilih atau menyusun alat – alat evaluasi yang akan digunakan.

Masalah kelima dari langkah perencanaan ialah menentukan kriteria yang akan digunakan.

Masalah keenam dari langkah perencanaan ialah menetapkan frekuensi evaluasi.

4. Ruang Lingkup Evaluasi Hasil Belajar

Ruang lingkup dari evaluasi hasil belajar terdiri dari : perencanaan penilaian hasil belajar, pangumpulan data hasil belajar, verifikasi terhadap data yang diperoleh, analisis data, serta interpretasi dan penggunaan hasil tes hasil belajar.

5. Jenis dan Sistem Penilaian

Jenis penilaian ada beberapa macam, yaitu penilaian formatif, penilaian sumatif, penilaian diagnostik, penilaian selektif dan penilaian penempatan.

Penilaian formatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir program belajar mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri.

Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir unit program, yaitu akhir catur wulan, akhir semester, dan akhir tahun. Tujuannya adalah untuk melihat hasil yang dicapai oleh para siswa.

Penilaian selektif adalah penilaian yang bertujuan untuk keperluan seleksi, misalnya ujian saringan masuk ke lembaga pendidikan tertentu.

Penilaian penempatan penilaian yang ditujukan untuk mengetahui keterampilan prasarat yang diperlukan bagi suatu program belajar dan penguasaan belajar seperti yang diprogramkan sebelum memulai kegiatan belajar untuk program itu.

Penilaian acuan norma (PAN) adalah penilaian yang diacukan kepada rata – rata kelompoknya. Diketahui posisi kemampuan siswa di dalam kelompoknya.Untuk itu norma atau kriteria yang digunakan dalam menentukan derajat prestasi seorang siswa, dibandingkan dengan nilai rata – rata kelasnya. Kategori prestasi siswa, yakni diatas rata – rata kelas, sekitar rata – rata kelas, dan dibawah rata – rata kelas. Prestasi kelompok atau kelas sehingga sekaligus dapat diketahui keberhasilan pengajaran bagi semua siswa. Kelemahannya adalah kurang meningkatkan kualitas hasil belajar. Kelemahannya yang lain ialah kurang praktis sebab harus dihitung dahulu nilai rata – rata kelas, jika jumlah siswa cukup banyak. Kurang menggambarkan tercapainya tujuan instruksional sehingga tidak dapat dijadikan ukuran dalam menilai keberhasilan pengajaran. Penggunaan sistem ini tidak dapat digunakan untuk menarik generalisasi prestasi siswa sebab rata – rata kelompok untuk kelas yang satu berbeda dengan kelas yang lain. Sistem penilaian ini tepat digunakan dalam penilaian formatif, bukan untuk penilaian sumatif. Sistem penilaian acuan norma disebut standar relatif.

Penilaian Acuan Patokan (PAP) adalah penilaian yang diacukan kepada tujuan intruksional yang harus dikuasai oleh siswa.diberikan soal atau pertanyaan sebanyak 50 pertanyaan. Skor satu sehingga maksimal skor yang dicapai adalah 50. kriteria keberhasilan 80 persen artinya harus mencapai skor 40. Siswa yang mendapat skor 40 ke atas dinyatakan berhasil dan yang kurang dari 40 dinyatakan gagal. Mengacu kepada konsep belajar tuntas atau mastery learning. Sistem penilaian ini tepat digunakan untuk penilaian sumatif dan dipandang merupakan usaha peningkatan kualitas pendidikan. Sistem penilaian acuan patokan disebut standar mutlak.

Dalam pembicaraan sering terdengar istilah tes, pengukuran, asesmen, dan evaluasi (penilaian). Agar diperoleh pengertian yang tepat, akan diberi batasan mengenai pengertian dan hubungan antara pengukuran (measurement), asesmen (assesment) dan evaluasi (evaluation).

a. Pengukuran

Pengukuran : proses menentukan angka untuk individu atau menentukan karakteristik individu menurut aturan tertentu (alat ukurnya brupa tes), hasilnya berupa data kuantitatif (angka).

b. Asesmen

Asesmen : sekelompok pengertian yang mengacu pada pengumpulan data dan informasi untuk tujuan menjelaskan tingkat pengetahuan, penampilan, dan prestasi dari individu maupun kelompok.

c. Evaluasi

Evaluasi : proses yang meliputi pengukuran dan pengetesan, tetapi hal tersebut mengandung dugaan akan keputusan nilai.

1. Penilaian Berbasis Kelas (PBK)

Untuk mengetahui apakah pembelajaran sudah mencapai tujuan, baik dari segi proses dan hasil dalam berbagai ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik), maka salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengadakan evaluasi (penilaian). Melalui penilaian diperoleh informasi yang dibutuhkan, keefektivan pembelajaran yang mencakup antara lain : strategi, metode, alat penilaian, dan hasil pembelajaran.

2. Tujuan PBK

Tujuan dan kegunaan penilaian pendidikan dapat diarahkan kepada keputusan – keputusan yang menyangkut : (a) pengajaran, (b) hasil belajar, (c) diagnosis dan usaha perbaikan, (d) penempatan, (e) seleksi, (f) bimbingan dan konseling, (g) kurikulum, dan (h) penilaian kelembagaan.

Tujuan penilaian berbasis kelas adalah untuk memberikan : (a) memberikan informasi tentang kemajuan hasil belajar siswa secara individual, (b) informasi yang dapat digunakan untuk membina kegiatan belajar lebih lanjut, (c) informasi yang dapat digunakan oleh guru dan siswa untuk mengetahui tingkat kemampuan.

3. Fungsi PBK

Fungsi pokok pembelajaran adalah untuk : (a) mengukur kemajuan, (b) menunjang penyusunan perencanaan , dan (c) memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali.

Mengukur kemajuan artinya mengetahui bagaimana perkembangan keberhasilan suatu program pada periode tertentu.

Berdasarkan tiga fungsi pokok tersebut, maka dalam kaitannya dengan pembelajaran, fungsi PBK adalah untuk mengetahui : (a) kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan pembelajaran setelah mengalami atau melakukan kegiatan pembelajaran selama jangka waktu tertentu, misalnya stu pokok bahasan atau sati semester, (b) apakah komponen – komponen pembelajaran perlu diprbaiki atau disempurnakan.

4. Hubungan antara Pengajaran dan Evaluasi Hasil Belajar

Hasil belajar ini berupa pengetahuan, keterampilan, sikap, dan sebagainya, yang dapat diklarifikasikan ke dalam ranah atau aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

1. Prinsip Penilaian Berbasis Kelas Penilaian harus diarahkan agar memenuhi prinsip- prinsip :

- Valid

- Mendidik

- Berorientasi pada kompetensi, harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.

- Adil dan objektif

- Terbuka

- Berkesinambungan

- Menyeluruh

- Bermakna

2. Ciri Alat Evaluasi yang baik dan Jenis Alat Evaluasi

a. Ciri – ciri Alat Evaluasi yang Baik

Alat evaluasi (instrumen) harus memenuhi kriteria konsumen yang baik. Ciri – ciri instrumen yang baik antara lain adalah :

  • Validitas, sahih (valid), artinya instrumen itu mengukur apa yang seharusnya diukur. Konsep validitas mengacu pada interpretasi yang diperoleh melalui hasil, disimpulkan dari fakta dan dinyatakan dalam tingkatan tinggi, sedang dan rendah. Validitas dapat dibedakan menjadi validitas isi, validitas konstruk, dan validitas kriteria.

  • Reliabilitas

Reliabel artinya hasil pengukuran selalu konsisten bila dilaksanakan pada siswa yang sama dalam kondisi dan waktu yang berlainan, atau dengan instrumen yang paralel pada subjek dan waktu yang sama akan memberikan hasil yang “tetap”, “ajeg” selama aspek yang diukur belum berubah. Reliabilitas sering diterjemahkan dengan keterpercayaan, keterandalan, keajegan atau kemantapan.

· Tingkat Kesulitan

Suatu instrumen yang baik akan memiliki tingkat kesulitan yang seimbang. Pengertian seimbang dalam kaitan ini dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, berkaitan dengan proporsi penyebaran soal : mudah, sedang, sulit. Kedua, berkaitan dengan kemampuan siswa yang akan dinilai.

· Daya Pembeda

Daya pembeda butir soal menunjukkan kepada kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang mampu dengan siswa yang tidak mampu.

· Kepraktisan

Kepraktisan juga merupakan salah satu ciri yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan tingkat kebaikan suatu instrumen. Semakin mudah instrumen diadministrasikan, semakin baik instrumen itu dilihat dari segi ini.

b. Jenis – jenis Instrumen

untuk mengukur kemajuan siswa baik dari segi proses maupun hasil, instrumen yang dapat berupa tes, tugas – tugas assesmen penampilan, observasi, presentasi dan proyek, portofolio dan jurnal, interview, un-obstrusive technique (teknik pengukuran yang tidak membutuhkan kerja sama siswa dalam merespon, misalnya catatan sekolah, daftar hadir, hasil kerja siswa, bukti – bukti fisik, kesediaan dengan suka rela mengatur tempat duduk), dan koesioner butir tertutup.

VALIDITAS DALAM PENGUKURAN

Validitas berasal dari kata validity yang berarti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

  1. Validitas Isi

Validitas isi suatu tes mempermasalahkan seberapa jauh suatu tes mengukur tingkat penguasaan terhadap isi atau konten atau meteri tertentu yang seharusnya dikuasai sesuai dengan tujuan pengajaran. Dengan kata lain tes yang mempunyai validitas isi yang baik ialah tes yang benar – benar mengukur penguasaan materi yang seharusnya dikuasai sesuai dengan konten pengajaran yang tercantum dalam GBPP.

  1. Validitas Konstruk

Validitas konstruk adalah validitas yang mempermasalahkan seberapa jauh item – item tes mampu mengukur apa yang benar – benar hendak diukur sesuai dengan konsep khusus atau definisi konseptual yang telah ditetapkan.

Validitas konstruk biasa digunakan untuk instrumen – instumen yang dimaksudkan mengukur variabel konsep, baik yang sifatnya perfomansi tipical seperti instrumen untuk mengukur sikap, minat, konsep diri, lokus kontrol, gaya kepemimpinan, motivasi berprestasi, dll maupun perfomansi maksimum seperti instrumen untuk mengatur bakat, intelegensi, kecedasan emosional, dan lain – lain.

Dimensi dan indikator dijabarkan dari konstruk yang telah dirumuskan dengan memperhatikan sebagai berikut :

· Seberapa jauh indikator tersebut merupakan indikator yang tepat dari konstruk yang telah

· Indikator – indikator dari suatu konstruk harus homogen, konsuisten, dan konvergen untuk mengukur konstruk dari variabel yang hendak di ukur.

· Indikator – indikator tersebut harus lengkap untuk mengukur suatu konstruk secara utuh.

  1. Validitas Empiris

Validitas empiris sama dengan validitas kriteria yang berarti bahwa validitas ditentukan berdasarkan kriteria, baik kriteria internal maupun eksternal. Kriteria internal adalah tes atau instrumen itu sendiri yang menjadi kriteria sedangkan kriteria eksternal adalah hasil ukur instrumen atas tes lain di luar instrumen itu sendiriyang menjadi kriteria.

Validitas yang ditentukan berdasarkan kriteria internal disebut validitas internal, sedangkan kriteria eksternal disebut validitas eksternal. Validitas eksternal dibedakan menjadi dua yaitu validitas kongruen dan validitas prediktif.

  1. Validitas Internal

Validitas internal termasuk termasuk validitas kriteria yang merupakan validitas yang diukur dengan besaran yang menggunakan instrumen sebagai suatu kesatuan sebagai kriteria untuk menentukan validitas item atau butir instrumen itu.

Jika skor butir kontinum maka untuk menghitung koefisien korelasi antara skor butir dengan skor total instrumen digunakan koefisien korelasi product moment (r) yang menggunakan rumus :

  1. Validitas Eksternal

Seperti telah dikemukakan bahwa validitas eksternal adalah jenis validitas empiris, yaitu validitas yang diukur berdasarkan kriteria eksternal. Kriteria eksternal itu dapat berupa hasil ukur instrumen baku atau instrumen yang dianggap baku dapat pula berupa hasil ukur lain yang sudah tersedia dan dapat dipercaya sebagai ukuran dari suatu konsep atau variabel yang hendak diukur.

Validitas eksternal dapat dibedakan atas dua macam yaitu prediktif dan kongruen. Disebut prediktif apabila kriteria eksternal yang digunakan adalah ukuran atau penampilan masa yang akan datang, sedang disebut validitas kongruen apabila kriteria eksternal yang digunakan adalah ukuran atau penampilan saat ini atau saat yang bersamaan dengan pelaksanaan pengukuran.

REABILITAS DALAM PENGUKURAN

Reliabilitas berasal dari kata reliability berarti sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Suatu hasil pengukuran hanya dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama, diperoleh hasil yang pengukuran yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subyek belum berubah.

Konsep reliabilitas dalam arti reliabilitas alat ukur berkaitan erat dengan masalah eror pengukuran. Eror pengukuran sendiri menunjukkan sejauhmana inkonsistensi hasil pengukuran terjadi apabila dilakukan pengukuran ulang terhadap kelompok subyek yang sama. Sedangkan konsep reliabilitas dalam arti reliabilitas hasil ukur berkaitan erat dengan eror dalam pengambilan sampel yang mengacu pada inkosistensi hasil ukur apabila pengukuran ulang pada kelompok yang berbeda.

Salah satu syarat agar hasil ukur dalam suatu tes dapat dipercaya adalah tes harus mempunyai reliabilitas yang memadai, realibilitas dibedakan atas dua macam :

1. Reabilitas Konsisten Tanggapan

Reabilitas konsisten tanggapan responden mempersoalkan apakah tanggapan responden atau objek ukur terhadap tes atau instrumen tersebut sudah baik atau konsisten.

Jika hasil pengukuran kedua menunjukkan ketidakkonsistenan atau plin-plan maka jelas hasil pengukuran itu tidak mencerminkan keadaan obyek ukur yang sesungguhnya.

Jika ternyata tanggapan itu tidak mantap atau tidak konsisten, maka bukan berarti objek ukurannya yang salah tetapi kita menyalahkan alat ukur (tes atau instrumen) dengan mengatakan bahwa alat ukurnya yang tidak reliabel.

Ada tiga mekanisme untuk memeriksa reliabilitas tanggapan responden terhadap tes yaitu :

(1) Teknik test-retest adalah pengetesan dua kali dengan menggunakan suatu tes yang sama pada waktu yang berbeda. Misalnya tes A diberikan kepada kelompok siswa K dalam waktu W1 dan W2. Kemudian skor siswa pada W1 dikorelasikan dengan skor siswa pada W2 yang perlu diperhatikan disini adalah jangan sampai hasil tes pada W2 dipengaruhi oleh pelaksanaan tes pada W1, dan jangan sampai W2 terjadi pada keadaan obyek ukur sudah berubah dari W1.

(2) Teknik belah dua, pada teknik belah dua ini pengukuran dilakukan dengan dua kelompok item yang setara pada saat yang sama.

(3) Bentuk ekivalen. Pengukuran dilakukan dengan dua tes yang dibuat setara kemudian diberikan kepada responden atau obyek tes dalam waktu yang bersamaan. Skor dari kedua kelompok item tersebut dikorelasikan untuk mendapatkan reliabilitas tes.

2. Reliabilitas Konsistensi Gabungan Item

Reliabilitas gabungan item berkaitan dengan kemantapan atau konsistensi antara item – item suatu tes. Jika terhadap bagian obyek ukur yang sama, hasil ukur melalui item yang satu kontradiksi atau tidak konsisten dengan hasil ukur melalui item yang lain maka pengukuran dengan tes (alat ukur sebagai suatu kesatuan itu tidak dapat dipercaya). Dengan kata lain tidak reliabel dan tidak dapat digunakan untuk mengungkap ciri atau keadaan yang sesungguhnya dari objek ukur.

Koefisien reliabilitas konsisten gabungan item dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

(a) Rumus Kuder-Richardson yang dikenal dengan nama KR-20 dan KR-21

(b) Rumus Koefisien Alpha atau Alpha Cronbach

(c) Rumus Reliabilitas Hoyt, yang menggunakan analisis variansi.

Para Tokoh Dan Perannya Dalam Perkembangan Islam Di Indonesia

1. Walisongo (Wali Sembilan)

Di kalangan masyarakat Islam Jawa, banyak orang mempercayai bahwa wali yang menyebarkan Islam di Jawa berjumlah sembilan orang, sesuai dengan kata “songo”. Sebenarnya jumlah mereka tidak tepat sembilan, tetapi lebih. Namun lebih dikenal adalah sembilan wali (wali songo).

  1. Sunan Gresik (Malik Ibrahim, Maulana)

Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Magribi yang dalam babad Jawa disebut Makdum Brahim Asmara. Beliau adalah saudara Maulana Ishak dengan memperistri putri Campa dan melahirkan dua orang putra, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Syaid Aki Murtadha atau Raden Santri. Beliau adalah putra dari Raden Jumadil Qubro. Maulana Malik Ibrahim datang ke Jawa tahun 1404 M yang menurut Babad Tanah Jawi bukan datang dari Campa, tetapi menurut namanya beliau berasal dari Samarkandi di Asia Kecil. Pernyataan dari Babad Tanah Jawi tidak bertentangan, sebab dari Asia Kecil beliau bermukim dulu di Campa. Maulana Malik Ibrahim menyebarkan agama Islam dengan cara melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat yang diajaknya. Beliau dakwah dengan diplomasi yang ulung, tidak menyinggung perasaan orang yang didakwahnya, bahkan membesarkan hati. Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi ilmu yang dimiliki oleh syekh Maulana Malik Ibrahim. Hal ini dapat diketahui dalam kisah-kisah yang pernah dialaminya, misalnya dalam kisah tentang Kepala perampok. Maulana Malik Ibrahim tidak turun sendiri dalam menghadapinya, tetapi murid-muridnya saja dapat mengalahkan kepala perampok. Maka, dapat disimpulkan betapa saktinya dia. Maulana Malik Ibrahim wafat tahun 1419 M dan dimakamkan di Gresik pada nisanya terdapat tulisan Arab yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang penyebar agama yang cakap dan gigih. Dalam bahasa Indonesia tulisan itu berbunyi :”inilah makam almarhum almagfur yang berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para pangeran, sendi pada sultan dan para menteri, penolong para fakir miskin, yang berbahagia dan syahid cemerlangnya simbol negara dan agama” Maulana malik ibrahim terkenal dengan nama Kake Bantal.

b. Sunan Ampel (Campa Aceh, 1401- Ampel, Surabaya 1481 M)

Nama aslinya Raden Rahmat. Ia adalah putra Maulana Malik Ibrahim dari istrinya bernama Dewi Candrawulan. Sunan Ampel adalah penerus cita-cita serta perjuangan Maulana Malik Ibrahim dan terkenal sebagai perencana pertama kerajaan Islam di Jawa; ia memulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat Surabaya, sehingga ia dikenal sebagai pembina pondok pesantren pertama di Jawa Timur. Di pesantren inilah Sunan Ampel mendidik para pemuda Islam untuk menjadi tenaga da’i yang akan disebar ke seluruh Jawa. Diantara pemuda yang dididik itu tercatat antara lain Raden Paku yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Giri, Raden yang kemudian menjadi sultan pertama kesultanan Islam di Bintoro, demak, Raden Makdum Ibrahim (Putra Sunan Ampel sendiri) yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Bonang Syaridudin yang kemudian dikenal dengan Sunan Drajat, Maulana Ishak yang pernah diutus ke daerah blambangan untuk mengislamkan rakyat di sana dan banyak lagi mubalig yang mempunyai andil besar dalam Islamisasi Pulau Jawa. Sunan Ampel tercatat sebagai perancang Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dengan ibu kota di Bintoro, Demak. Dialah yang mengangkat Raden Fatah sebagai sultan pertama Demak, yang dipandang punya jasa paling besar dalam meletakkan peran politik umat Islam di Nusantara. Disamping itu Sunan Ampel juga ikut mendirikan Masjid Agung Demak pada tahun 1479 bersama wali-wali yang lain. Ketika mendirikan Masjid tersebut, para wali mengadakan pembagian tugas. Sunan Ampel diserahi tugas memuat salah satu dari saka guru (tiang kayu raksasa) yang kemudian dipasang di bagian tenggara. Tiga tiang besar yang lain dikerjakan oleh Sunan Kalijaga untuk tiang sebelah timur laut (bukan berupa tiang utuh, tetapi berupa beberapa balok yang diikat menjadi satu yang disebut “saka tatal”) Sunan Bonang untuk tiang sebelah barat timur, Sunan Gunung Jati untuk tiang sebelah barat daya, sementara bagian-bagian lain masjid dikerjakan oleh para wali yang lain

c. Sunan Bonang (Ampel Denta, Surabaya 1465 – Tuban 1525)

Dianggap sebagai pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam di pesisir utara Jawa Timur. Ia adalah putra Raden Rahmat dari perkawinannya dengan Dewi Candrawati dan merupakan Saudara sepupuh Sunan Kalijaga. Ia terkenal dengan nama Raden Maulana Makhdum Ibrahim atau Raden Ibrahim (Makhdum adalah gelar yang biasa diberikan kepada seorang ulama besar di India dan berarti orang yang dihormati). Dari perkawinannya dengan Dewi Hiroh ia memperoleh seorang putri bernama Dewi Rukhil yang kemudian diperistri Sunan Kudus. Setelah belajar Islam di Pasai, Aceh Sunan Bonang kembali ke Tuhan, Jawa Timur untuk mendirikan pondok pesantren. Santri-santri yang menjadi muridnya berdatangan dari berbagai daerah. Setelah sunan Ampel wafat, pesantren yang ditinggalkannya tidak lagi mempunyai pemimpin resmi. Maka untuk mengisi kekosongan itu, Sunan Bonang memprakarsai musyawarah para wali untuk membicarakan siapa yang akan memimpin pesantren tersebut. Hasil musyawarah wali memutuskan untuk mengangkat Raden Fatah menjadi pengganti almarhum Sunan Ampel. Sunan Bonang memberikan pendidikan Islam secara mendalam kepada Raden Fatah, putra raja Majapahit Prabu Brawijaya V yang kemudian menjadi sultan pertama Demak. Catatan-catatan pendidikan tersebut kini dikenal dengan “Suluk Sunan Bonang” atau “Primbon Sunan Bonang” Isi buku tersebut berbentuk prosa ala Jawa Tengah, kalimatnya sangat banyak dipengaruhi bahasa Arab, dan sampai sekarang masih tersimpan di Universitas Leiden Negeri Belanda.

d. Sunan Giri (Blambangan, Pertengahan abad Ke-15 – Giri 1500 M)

Nama aslinya Raden Paku, disebut juga Prabu Satmata dan kadang-kadang disebut Sultan Abdul Fakih. Ia adalah putra dari Maulana Ishak yang ditugaskan Sunan Ampel untuk mengembangkan agama Islam di Blambangan. Salah seorang saudaranya juga termasuk Walisongo, yaitu Raden Fatah (Sunan Gunung Jati) dan ia mempunyai hubungan keluarga dengan Raden Fatah karena istri mereka bersaudara.Ketika usianya beranjak dewasa, Raden Paku belajar agama di Pondok Pesantren Ampel Denta (pimpinan Sunan Ampel) dan disana bertema baik degan Raden Maulana Makdum Ibrahim, putra Sunan Ampel yang kemudian terkenal dengan Sunan Bonang. Dalam suatu perjalanan ibadah haji menuju Mekah, kedua santri ini lebih dahulu memperdalam pengetahuan di Pasai yang ketika itu menjadi tempat berkembangnya ilmu ketuhanan, keimanan dan tasawuf. Disini Raden Paku sampai pada tingkat ilmu laduni sehingga gurunya menganugrahinya gelar Ai Al Yaqin karena itulah ia kadang-kadang dikenal masyarakat dengan sebutan Raden Ainul Yakin. Sunan Giri terkenal sebagai pendidik yang berjiwa demokratis. Ia mendidik anak-anak melalui berbagai permainan yang berjiwa agama. Misalnya jelungan, jamuran, gendi ferit, jor, gula ganti, cublak-cublak suweng, ilir-ilir dan sebagainya. Ia juga dipandang sebagai orang yang sangat berpengaruh terhadap jalannya roda kesultanan Demak Bintoro (Kesultanan Demak) sebab setiap kali muncul masalah penting yang harus diputuskan wali yang lain selalu menantikan keputusan dan pertimbangannya.

e. Sunan Drajat (Ampel Denta, Surabaya, sekitar Tahun 1470 Sedayu, Gresik pertengahan abad ke-16)

Nama aslinya Raden Kosim atau Syarifudin tetapi karena ia dimakamkan di daerah Sedayu, maka kebanyakan masyarakat awam mengenalnya sebagai Sunan Sedayu.Menurut Silsilah, Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel dari istri kedua bernama Dewi Candrawati. Ia mempunyai enam saudara seayah seibu diantaranya Siti Syareat (istri Raden Usman Haji), Siti Mutma’innah (Istri Raden Muhsin), Siti Sofiah (istri Raden Usman Ahmad, Sunan Malaka), dan Raden Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), disamping itu ia mempunyai dua orang saudara seayah lain ibu yaitu Dewi Murtasiyah (istri Raden Fatah) dan Dewi Murtasimah (istri Raden Paku atau Sunan Giri), Istrinya sendiri Dewi Sifiyah adalah putri Sunan Gunung Jati. Hal yang paling menonjol dalam dakwah Sunan Drajat adalah perhatiannya yang sangat serius pada masalah-masalah sosial. Ia terkenal mempunyai jiwa sosial dan tema-tema dakwahnya selalu berorientasi pada kegotongroyongan. Ia selalu memberi pertolongan kepada umum, menyantuni anak yatim dan fakis miskin sebagai suatu proyek sosial yang dianjurkan agama Islam.

f. Sunan Kalijaga (akhir Abad ke-14 Pertengahan abad ke-15)

Terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, berpandangan jauh berpikiran tajam, intelek, serta berasal dari suku Jawa Asli. Nama Kalijaga konon berasal dari rangkaian bahasa Arab qadi zaka yang berarti pelaksana dan membersihkan. Qadizaka yang kemudian menurut lidah dan ejaan menjadi Kalijaga berarti pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kebersihan atau kesucian. Nama Asli Sunan Kalijaga adalah Raden Mas Syahid dan kadang-kadang dijuluki Syekh Malaya. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilatikta yang menjadi bupati Tuban, sedang ibunya bernama Dewi Nawang Rum. Daerah operasi dakwah Sunan Kalijaga tidak terbatas, bahkan sebagai mubaligh ia berkeliling dari satu daerah ke daerah lain. Karena sistem dajwahnya yang intelek dan aktual maka para bangsawan dan cendekiawan sangat simpati terhadapnya, demikian juga lapisan masyarakat awam, bahkan penguasa, berdakwahnya tidak monoton, sesekali diisi dengan cerita-cerita humor yang mendidik, sekaligus menarik perhatian. Jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian bukan hanya terlihat pada wayang dan gamelan, tetapi juga dalam seni suara, seni ukir, seni busana, seni pahat dan kesusastraan. Banyak corak batik yang oleh Sunan Kalijaga diiberi motif burung. Burung dalam bahasa Kawi disebut kukula. Kata tersebut ditulis dalam Bahasa Arab menjadi qu dan qila yang berarti “peliharalah ucapanmu sebaik-baiknya” dan menjadi salah satu ajaran etik Sunan Kalijaga melalui corak batik.

g. Sunan Kudus (Abad ke-15 – Kudus 1550)

Nama aslinya Ja’far Sadiq, tetapi sewaktu kecil dipanggil Raden Undung. Kadang-kadang ia dipanggil dengan Raden Amir Haji, sebab ketika menunaikan ibadah haji ia bertindak sebagai pimpinan rombongan (amir). Sunan Kudus adalah putra Raden Usman Haji, yang menyiarkan Islam di daerah Jipang Panolan, Blora. Menurut silsilah Sunan Kudus masih mempunyai hubungan keturunan dengan Nabi Muhammad SAW. Silsilah selengkapnya : Ja’far Sadiq bin Raden Usman Haji bin Raden Pendeta bin Ibrahim as-Samarkandi bin Maulana Muhammad Jumadalkubra bin Zaini Al-Husein bin Zaini Al-Kubra bin Zainul Alim bin Zainul Abidin bin Sayid Husein bin Ali ra. Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya dan dia memiliki keahlian khusus dalam bidang ilmu agama, terutama dalam ilmu fikih, usul fikih, tauhid, hadits, tafsir, serta logika. Karena itulah diantara Walisongo hanya ia yang mendapat julukan Wal Al-ilmi (orang yang luas ilmunya) dan karena keluasan ilmunya ia didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai daerah di Nusantara. Disamping menjadi juru dakwah, Sunan Kudus juga menjadi panglima perang Kesultanan Demak Bintoro yang tangguh dan dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan sekaligus pemimpin agama di daerah tersebut.

h. Sunan Muria (abad ke-15 – abad ke-16)

Salah seorang Walisongo yang banyak berjasa dalam menyiarkan Islam di pedesaan Pulau Jawa adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Said, atau Raden Said sedang nama kecilnya adalah Raden Prawoto, namun ia lebih terkenal dengan nama Sunan Muria karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung Muria (18 km di sebelah utara kota Kudus sekarang). Sunan Muria juga terkenal sebagai pendukung setia Kesultanan Demak Bintoro dan berperan serta dalam mendirikan Masjid Demak. Dalam rangka dakwah melalui budaya ia menciptakan tembang dakwah Sinon dan Kinanti.

i. Sunan Gunung Jati (Mekah, 144-Gunung Jati, Cirebon Jawa Barat 1570)

Salah seorang dari Walisongo yang bayak berjasa dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa terutama di Jawa Barat juga pendiri kesultanan Cirebon. Nama aslinya Syarif Hidayatullah dialah pendiri Dinasti Raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten. Sunan Gunung Jati adalah cucu raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Dari perkawinan Prabu Siliwangi dengan nyai Subang Larang, lahirlah dua putra dan satu putri, masing-masing bernama Raden Walangsungsang, Nyi Lara Santang dan Raja Sengara. Setelah Nyai Subang Larang wafat, Raden Walangsungsang keluar dari keraton tidak lama setelah itu adik perempuannya menyusul. Keduanya belajar agama Islam kepada Syekh Datu Kahfi (Syekh Nurul Jati) di Gunung Jati Ngamparan Jati. Setelah 3 tahun belajar, mereka diperintahkan gurunya utuk ibadah haji ke Mekah. Di Mekah, Nyai Lara Santang mendapat jodoh yaitu Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah) seorang bangsawan Arab yang berasal dari Bani Hasyim. Setelah menunaikan ibadah Haji, Raden Walangsungsang kembali ke Jawa dan menjadi juru labuhan di Pasambangan yang kemudian berkembang menjadi Cirebon. Sementara itu Nyai Larang Santang melahirkan Syarif Hidayatullah setelah dewasa, Syarif Hidayatullah memilih berdakwah ke Jawa daripada menetap di tanah Arab. Dia kemudian menemui Raden Walangsungsang yang sudah bergelar Pangeran Cakrabuana. Setelah pamannya itu wafat, ia menggantikan kedudukannya dan kemudian berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kesultanan, ia kemudian terkenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. Menurut Purwaka Caruban Nagari, Sunan Gunung Jati sebagai salah seorang Walisongo mendapat penghormatan dari raja-raja lain di Jawa seperti Kerajaan Demak dan Pajang. Karena kedudukannya sebagai raja dan ulama ia diberi gelar Raja Pandita.

Sejarah Islam – Awal Mula Islam di Indonesia

Sejarah Awal Mula Islam – Tahukah Anda tentang Awal Mula Sejarah Islam di dunia maupun sejarah masuknya islam di Indonesia? Pada kesempatan kali ini awalmula.com akan berbagi informasi untuk menambah ilmu pengetahuan kita terutama tentang sejarah agama islam. Karena mempelajari sejarah sangatlah penting sebagaimana firman Allah SWT dalam kitab suci al-Qur’an ayat 111 yang artinya “mempelajari sejarah terdapat ibrah (pelajaran). Mengapa demikian? Karena dengan mempelajari sejarah di masa lampau, kita dapat mengambil pelajaran untuk masa yang akan datang sebagai planning atau konsep yang lebih baik. Dan tentunya kita semua tahu hadist Rasulullah SWT yang berbunyi “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini”. Untuk itu marilah kita selalu mempelajari sejarah-sejarah yang ada didunia sebagai konsep hidup yang lebih baik.

Risalah Islam dilanjutkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. di Jazirah Arab pada abad ke-7 masehi ketika Nabi Muhammad saw mendapat wahyu dari Allah swt. Setelah kematian Rasullullah s.a.w. kerajaan Islam berkembang hingga Samudra Atlantik dan Asia Tengah di Timur.

Namun, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottoman, Kemaharajaan Mughal, India,dan Kesultanan Melaka telah menjadi kerajaaan yang besar di dunia. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutama pada Zaman Emas Islam. Karena banyak kerajaan Islam yang menjadikan dirinya sekolah.

Di abad ke-18 dan 19 masehi, banyak daerah Islam jatuh ke tangan Eropa. Setelah Perang Dunia I, Kerajaan Ottoman, yaitu kekaisaran Islam terakhir tumbang.

Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang dilewati oleh jalur sutera. Kebanyakkan Bangsa Arab merupakan penyembah berhala dan sebagian merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi. Mekah adalah tempat suci bagi bangsa Arab ketika itu karana terdapat berhala-berhala mereka dan Telaga Zamzam dan yang paling penting sekali serta Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim beserta Ismail.

Nabi Muhammad saw. dilahirkan di Mekah pada Tahun Gajah yaitu 570 masehi. Ia merupakan seorang anak yatim sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia. Muhammad akhirnya dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib. Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dan menjalani kehidupan yang bahagia.

Namun, ketika Nabi Muhammad saw. berusia 40 tahun, beliau didatangi Malaikat Jibril Sesudah beberapa waktu Muhammad mengajar ajaran Islam secara tertutup kepada rekan-rekan terdekatnya, yang dikenal sebagai “as-Sabiqun al-Awwalun(Orang-orang pertama yang memeluk Islam)” dan seterusnya secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekah.

Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya hijrah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah. Peristiwa lain yang terjadi setelah hijrah adalah pembuatan kalender Hijirah.

Penduduk Mekah dan Madinah ikut berperang bersama Nabi Muhammad saw. dengan hasil yang baik walaupun ada di antaranya kaum Islam yang tewas. Lama kelamaan para muslimin menjadi lebih kuat, dan berhasil menaklukkan Kota Mekah. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, seluruh Jazirah Arab di bawah penguasaan Islam.

Sejarah Masuknya Islam di Indoonesia:

1. Babak pertama, abad 7 masehi (abad 1 hijriah).

Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Dai yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir Nusantara.

Sejak awal Islam tidak pernah membeda-bedakan fungsi seseorang untuk berperan sebagai dai (juru dakwah). Kewajiban berdakwah dalam Islam bukan hanya kasta (golongan) tertentu saja tetapi bagi setiap masyarakat dalam Islam. Sedangkan di agama lain hanya golongan tertentu yang mempunyai otoritas menyebarkan agama, yaitu pendeta. Sesuai ungkapan Imam Syahid Hasan Al-Bana “ Nahnu du’at qabla kulla syai“ artinya kami adalah dai sebelum profesi-profesi lainnya.

Sampainya dakwah di Indonesia melalui para pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang sambil membawa dagangannya juga membawa akhlak Islami sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang Islami. Masyarakat ketika berbenalan dengan Islam terbuka pikirannya, dimuliakan sebagai manusia dan ini yang membedakan masuknya agama lain sesudah maupun sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh masuknya agama Kristen ke Indonesia ini berbarengan dengan Gold (emas atau kekayaan) dan glory (kejayaan atau kekuasaan) selain Gospel yang merupakan motif penyebaran agama berbarengan dengan penjajahan dan kekuasaan. Sedangkan Islam dengan cara yang damai.

Begitulah Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas muslim yang berada di daerah-daerah pesisir berkembang menjadi kota-kota pelabuhan dan perdagangan dan terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam dari mulai Aceh sampai Ternata dan Tidore yang merupakan pusat kerajaan Indonesia bagian Timur yang wilayahnya sampai ke Irian jaya.

2. Babak kedua, abad 13 masehi.

Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di Nusantara. Yang merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya didaerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal.

Pada abad 13 Masehi ada fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan dakwah di Indonesia. Wali Songo mengembangkan dakwah atau melakukan proses Islamisasinya melalui saluran-saluran:

a) Perdagangan

b) Pernikahan

c) Pendidikan (pesantren)

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya indonesia, dan juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran Islam. Ini membuktikan Islam sangat menghargai budaya setempat selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

d) Seni dan budaya

Saat itu media tontonan yang sangat terkenal pada masyarakat jawa kkhususnya yaitu wayang. Wali Songo menggunakan wayang sebagai media dakwah dengan sebelumnya mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam. Yang menjadi ciri pengaruh Islam dalam pewayangan diajarkannya egaliterialisme yaitu kesamaan derajat manusia di hadapan Allah dengan dimasukannya tokoh-tokoh punakawam seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Para Wali juga menggubah lagu-lagu tradisional (daerah) dalam langgam Islami, ini berarti nasyid sudah ada di Indonesia ini sejak jaman para wali. Dalam upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai Islam.

e) Tasawwuf

Kenyatan sejarah bahwa ada tarikat-tarikat di Indonesia yang menjadi jaringan penyebaran agama Islam.

3. Babak ketiga, masa penjajahan Belanda.

Pada abad 17 masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda kedaerah Nusantara yang awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu hampir seluruh wilayah nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.

Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para Ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, mengubah pesantren-pesantren menjadi markas-markas perjuangan, santri-santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap penjajah adalah kaum muslimin beserta ulamanya.

Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad 13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan-kerajaan Islam yang syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama menggelorakan Jihad melawan kaum kafir yaitu penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:

Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan Ulama dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.

Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru Besar keIndonesiaan di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.

4. Babak keempat, abad 20 masehi

Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya adalah hanya membuat lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al-Qur’an dan hadist dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah. Selain itu juga mempersiapkan untuk lapisan birokrasi yang tidak mungkin pegang oleh lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat pendidikanpun tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang pemimpin-¬pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan bangsawan.

Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat organisasi formal daripada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo yang bersifat masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam dapat disebut organisasi pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo.

Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto yang memimpin organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam di bawah pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai pada sumpah pemuda tahun 1928.

Dakwah Islam di Indonesia terus berkembang dalam institusi-institusi seperti lahirnya Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Lembaga-lembaga ke-Islaman tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam ‘Ala Indonesia) yang kemudian berubah namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang anggotanya adalah para pimpinan institusi-institusi ke-Islaman tersebut.

Di masa pendudukan Jepang, dilakukan strategi untuk memecah-belah kesatuan kekuatan umat oleh pemerintahan Jepang dengan membentuk kementrian Sumubu (Departemen Agama). Jepang meneruskan strategi yang dilakukan Belanda terhadap umat Islam. Ada seorang Jepang yang faham dengan Islam yaitu Kolonel Huri, ia memotong koordinasi ulama-ulama di pusat dengan di daerah, sehingga ulama-ulama di desa yang kurang informasi dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi.

Pemerintahan pendudukan Jepang memberikan fasilitas untuk kemerdekaan Indonesia dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan dilanjuti dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan lebih mengerucut lagi menjadi Panitia Sembilan, Panitia ini yang merumuskan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Piagram Jakarta merupakan konsensus tertinggi untuk menggambarkan adanya keragaman Bangsa Indonesia yang mencari suatu rumusan untuk hidup bersama. Tetapi ada kalimat yang kontroversi dalam piagam ini yaitu penghapusan “7 kata “ lengkapnya kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya yang terletak pada alinea keempat setelah kalimat Negara berdasarkan kepada Ketuhan Yang Maha Esa.

5. Babak kelima, abad 20 & 21.

Pada babak ini proses dakwah (Islamisasi) di Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi dengan pengaruh-pengaruh gerakan Islam internasional secara efektif yang akan membangun kekuatan Islam lebih utuh yang meliputi segala dimensinya. Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses Islamisasi di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awalnya masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota yang perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian Allah mentakdirkan di Indonesia merupakan jumlah peduduk muslim terbesar di dunia, tetapi masih menjadi tanda tanya besar apakah kualitasnya sebanding dengan kuantitasnya.

BERSYUKUR

Salah satu akhlaq yang sangat tinggi nilainya dalam Islam adalah bersyukur. Demikian tinggi nilainya sehingga tidaklah salah kalau kita mengatakan bahwa syukur itu mempunyai keagungan dan kedahsyatan yang mengagumkan. Marilah kita lihat beberapa ayat Al-Quran yang mengungkapkan keagungan dan kedahsyatan syukur. Al-Quran menginformasikan, sekurang kurangnya ada 4 keutamaan syukur:

1. Menyebabkan Terhindarnya Siksaan

”Mengapa Allah akan menyiksamu. Jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Syukur lagi Maha Mengetahui”. (Surat An-Nisa’; 04 : 147).

Secara gamblang ayat tersebut menyatakan bahwa Allah tidak akan menyiksa hamba Nya yang bersyukur dan beriman.

Dalam kitab Tarjamah Al-Quran Al-Hakim karangan Salim Bahreisy dan Abdullah Bahreisy frase Maa yaf ’alullaahu bi ’adzaabikum, diterjemahkan dengan ”Untuk apa Allah akan menyiksamu”. Dalam kitab The Holy Quran, karangan Yusuf Ali, frase tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Inggeris “What can God gain by your punishment…”

Dalam kitab Tafsir Jalalain frase tersebut diberi tambahan keterangan “Pertanyaan ini berarti “tidak”, jadi maksudnya Allah tidaklah akan menyiksamu”.

Disini kita temukan bahwa SYUKUR itu digandengkan Allah dengan IMAN. Artinya antara syukur dan iman itu saling melengkapi. Bersyukur dalam keadaan beriman, dan beriman dalam keadaan bersyukur. Bersyukur saja tidak cukup kalau belum beriman, dan beriman saja belumlah sempurna kalau tidak bersyukur. Dan bagi hambaNya yang beriman dan bersyukur, Allah tidak akan menyiksa mereka. Subhanallaah.

2. Menyebabkan Bertambahnya Nikmat

Dan ingatlah juga tatkala Tuhan-mu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih””. (Ibrahim; 14 : 7)

Dalam ayat diatas, Allah menyatakan pasti akan menambah nikmat apabila hambaNya bersyukur. Janji Allah tersebut diatas dikuatkan dengan kata kata ”pasti”, dan tidak ada syarat apapun setelahnya. Artinya, secara absolut orang orang yang bersyukur akan diberi oleh Allah tambahan nikmatnya.

Pernyataan dalam ayat tersebut diatas diperkuat lagi dengan ayat lain yang menyatakan bahwa syukur seorang hamba itu adalah untuk dirinya sendiri, sedangkan Allah sama sekali tidak memerlukan syukur itu:

Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa tidak bersyukur, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Luqman; 31 : 12)

3. Balasan Syukur Adalah Mutlak Tanpa Syarat

Balasan bagi hamba yang bersyukur itu mutlak, tanpa batasan dan tanpa syarat. Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam akhir ayat 145 Surat Ali Imran:

Dan Kami akan memberi balasan kepada orang orang yang bersyukur (Ali Imran; 03 : 145).

Hal itu berbeda dengan janji Allah berkenaan dengan hal hal lainnya, misalnya:

Begitu juga dengan Surat At-Taubah, pada penggalan dalam ayat 15 yang menyatakan:

Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. (At-Taubah; 09 : 15).

4. Dibenci Oleh Iblis

Karena demikian agung dan dhasyatnya syukur itu, maka iblis sangat membenci orang orang yang bersyukur. Ketika iblis mengetahui keagungan dan kedahsyatan syukur, iblis langsung menyusun action program, dan membuat statement:

”Kemudian aku akan mendatangi mereka dari hadapan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur” (Al-A’raaf; 07 : 17)

Al-‘Aadiyat; 100 : 6

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhan-nya”

itu adalah karena godaan syetan, yang memang sangat tidak menyukai melihat manusia menjadi ”abdan syakura”

sudahkan kitacukup bersyukur

“Dan ingatlah juga tatkala Tuhan-mu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim; 14 : 7)

Ayat yang sangat terkenal tersebut diatas memberikan kita pemahaman bahwa sikap manusia terhadap nikmat Allah dibedakan atas dua kelompok yaitu yang bersyukur dan yang mengingkari (kufur). Bagi mereka yang bersyukur Allah menjanjikan tambahan nikmat. Sedangkan bagi mereka yang kufur, diancam dengan azab yang sangat pedih.

Dan bagi mereka yang bersyukur, selain mendapatkan tambahan nikmat dari Allah, syukurnya tersebut adalah untuk dirinya sendiri, sebagaimana ditegaskan Allah dalam Al-Quran:

Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa tidak bersyukur, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Luqman; 31 : 12)

Alangkah indahnya ganjaran Allah bagi mereka yang mau bersyukur. Namun sayangnya manusia banyak yang mengingkari nikmat-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat-ayat berikut ini:

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhan-nya” (Al-‘Aadiyah; 100 : 6)

“Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih”. (Al-Isra’; 17 : 67)

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya,. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (Ibrahim; 14: 34)

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (Az-Zumar; 39 : 49)

Sehubungan dengan kecenderungan manusia untuk tidak bersyukur, Allah berkali-kali mengingatkan kita agar tidak lupa bersyukur atas nikmat Allah yang manapun. Peringatan Allah tersebut antara lain kita temukan dalam ayat-ayat berikut:“Dan terhadap nikmat Tuhan-mu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (Adh-Dhuha; 93 : 11)

“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku”. (Al-Baqarah; 2: 152)

Karena itu sudah sepantasnyalah kita bertanya kepada diri kita masing-masing ”apakah kita sudah cukup bersyukur”.