Rabu, 16 Februari 2011

Asy Syaja’ah

Kehidupan dunia ini diiringi kesulitan demi kesulitan ( Al Balad: 4). Sehingga kesulitan sesuatu yang tak bisa dielakkan. Ia adalah realita perjalanan dunia ini. Kesulitan menjadi sebuah resiko dalam hidup. Tak seorang pun yang lepas dari kenyataan itu. Namun yang acap kali terjadi adalah takut terhadap resiko yang bakal muncul. Lantaran kekerdilan jiwa untuk menghadapinya. Lalu timbullah ketakutan-ketakutan. Padahal rasa ketakutan ini cuma menggiring seseorang menjadi pengecut. Dan akhirnya lari dari kenyataan.
Sifat pengecut dipandang sebagai sifat tercela yang tidak boleh dimiliki orang-orang yang beriman. Karena pengecut artinya ia tidak mau menanggung dan menghadapi resiko yang memang sudah menjadi konsekwensinya. Perilaku ini merupakan perilaku orang-orang yang setengah hati dalam keimanan, hanya ingin serba enak tanpa harus bersusah payah menghadapi masalah rumit. Sifat pengecut akan menjadi penghalang untuk maju dan pemberat langkah kesuksesan.

Saat ini, dunia dipenuhi dengan orang-orang yang memiliki sifat pengecut. Sebuah hadits Nabi SAW. memprediksikan di suatu masa umat Islam akan menjadi bulan-bulanan dan santapan empuk musuh-musuh Islam karena sudah mengidap penyakit wahn, yakni cinta dunia dan takut mati. Memang, penyakit wahn-lah yang menyebabkan umat Islam banyak yang menjadi pengecut sehingga tidak lagi disegani oleh musuh-musuhnya yakni kaum kafir, musyrikin dan munafikin.

Islam memandang hina orang yang pengecut. Baik pengecut untuk mempertahankan hidup sehingga gampang putus asa. Pengecut lantaran takut dikucilkan dari komunitasnya. Pengecut karena berlainan dengan sikap banyak orang. Atau pengecut untuk membela sebuah nilai. Kemudian menjerumuskan pelakunya pada sikap yang plin-plan tanpa prinsip. Rasulullah SAW. bersabda:

“Janganlah kamu menjadi orang yang tidak punyai sikap. Bila orang melakukan kebaikan maka aku pun melakukannya. Namun bila orang melakukan keburukan maka aku pun ikut melakukannya juga. Akan tetapi jadilah orang yang punya sikap dan keberanian. Jika orang melakukan kebaikan maka aku melakukannya. Namun jika orang melakukan keburukan maka aku tinggalkan sikap buruk mereka”. (Tirmidzi)

Allah SWT. selalu menggelorakan orang-orang yang beriman agar jangan takut, jangan pengecut. Karena rasa takut akan membawa kegagalan dan kekalahan. Akan tetapi keberanian menjadi seruan yang terus berulang-ulang dikumandangkan. Karena keberanian adalah tuntutan keimanan. Iman pada Allah SWT. mengajarkan menjadi orang-orang yang berani menghadapi beragam resiko dalam hidup ini, terlebih lagi, resiko dalam memperjuangkan dakwah ini.

Syaja’ah atau keberanian merupakan jalan untuk mewujudkan sebuah kemenangan dan sebagai izzah keimanan. Tak pernah boleh ada, kata gentar bagi kader dakwah saat mengemban tugas bila ingin meraih kegemilangan. Dari sisi inilah kaum yang beriman berada jauh di atas kebanyakan orang. Karena izzah keimanan menuntun mereka untuk tidak takut dan gentar sedikit pun.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 139)

Dahulu yang membuat gentar musuh-musuh Islam adalah keberanian pejuang-pejuang Islam yang menghambur ke medan perang dengan suka cita karena pilihannya sama-sama baik yakni hidup mulia dengan meraih kemenangan atau mati syahid di jalan Allah. Bahkan mereka jauh mencintai kemuliaan sebagai syahid sebagaimana kecintaan kaum kafir terhadap dunia. Dengan sikap ini kaum muslimin banyak memperoleh anugerah kemenangan dakwah di berbagai tempat.

Orang-orang kafir amat takut terhadap orang-orang yang beriman yang memiliki prinsip ini. Sehingga mereka berupaya agar sifat berani tidak bersemayam dalam diri orang-orang mukmin. Lalu mereka takut-takuti kaum muslimin dengan situasi dan kondisi masa depan yang suram, ancaman, teror, intimidasi atau tekanan-tekanan lainnya agar umat ini tidak lagi berani memperjuangkan nilai dan norma yang diyakininya. Akhirnya timbullah sikap takut yang luar biasa hingga melemahkan semangat juangnya.

Oleh karena itu jangan tertipu oleh upaya orang-orang kafir untuk menghilangkan sifat syaja’ah. Sebab syaja’ah merupakan harga diri orang-orang beriman. Lantaran sifat itu sebulan sebelum kedatangan kaum muslimin orang-orang di Babylonia telah lari tunggang langgang mendengar umat Islam akan tiba di negeri mereka. Sampai-sampai Khalid bin Walid RA. menenangkan masyarakat Romawi agar tidak perlu teramat takut pada kaum muslimin karena kedatangan umat Islam hanya untuk menyerukan Islam dan mengajak mereka menghamba pada Allah SWT. semata.

Asy syaja’ah (keberanian) menjadi salah satu ciri yang dimiliki orang yang istiqamah di jalan Allah, selain ciri-ciri berupa al-ithmi’nan (ketenangan) dan at-tafaul (optimisme). Dengan demikian orang yang istiqamahlah akan senantiasa berani, tenang dan optimis karena yakin berada di jalan yang benar dan yakin pula akan dekatnya pertolongan Allah. Namun memang tak mudah untuk menjadi orang yang istiqamah atau teguh pendirian memegang nilai-nilai kebenaran dan senantiasa berada di jalan Allah. Bahkan Rasulullah SAW. mengatakan bahwa turunnya surat Hud membuat beliau beruban karena di dalamnya ada ayat (Huud: 112) yang memerintahkan untuk beristiqamah.

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Rasulullah SAW. memahami benar makna istiqamah yang sesungguhnya sampai ketika Abu Sufyan bertanya hal terpenting apa dalam Islam yang membuatnya tak perlu bertanya lagi, beliau menjawab:

“Berimanlah kepada Allah dan kemudian beristiqamahlah (terhadap yang kau imani tersebut)”. (Bukhari).

Di kesempatan lain, Rasulullah SAW. juga mengatakan tantangan buat orang yang istiqamah memegang Islam di akhir zaman, begitu berat laksana menggenggam bara api.

Keberanian untuk tetap istiqamah walau nyawa taruhannya nampak pada diri orang-orang beriman seperti yang disebutkan di dalam surat Al-Buruuj: 4 – 8 yang dimasukkan ke dalam parit dan dibakar oleh as-habul ukhdud hanya karena mereka menyatakan keimanannya kepada Allah SWT. Begitu pula Asiah, istri Firaun dan Masyitah, pelayan Firaun, kedua-duanya harus menebus keimanan mereka kepada Allah dengan nyawa mereka. Asiah di tiang penyiksaannya dan Masyitah di kuali panas mendidih beserta seluruh keluarganya karena mereka berdua tak sudi mentuhankan Firaun. Demikian sulitnya untuk mempertahankan keistiqamahan di jalan Allah, dan demikian sulit pula untuk mewujudkan asy syaja’ah sebagai salah satu aspeknya.

Muthallibatu Ad Da’wah (Tuntutan-tuntutan Dakwah)

Dalam mengusung amanah dakwah, slogan ‘Jangan pernah takut, Maju pantang mundur, Berani karena benar, rela mati demi kebenaran’ tidak boleh luntur melainkan harus tetap terpatri dalam sanubari kader dakwah.

Melekatnya doktrin itu, membuat kader dakwah tidak akan lari ke belakang demi kemenangan dakwah ini. Karena asy syaja’ah (keberanian) mengemban amanah umat merupakan tuntutan dakwah.

Manakala Allah SWT. berbicara tentang penyelamatan dakwah, maka aspek asy syaja’ah ini yang selalu disebut-sebut oleh-Nya. Sebagaimana dalam surat At Taubah: 40,

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Di samping itu sikap syaja’ah para kader menjadi sebab dakwah berkesimbungan di muka bumi ini. Dengannya dakwah ini berjalan terus sekalipun harus melewati bukit terjal ataupun tembok besar. Beresiko berat ataupun ringan. Dengan keberanian para pejuang dakwah, ajaran Islam ini merambah ke berbagai pelosok dunia bahkan sampai pada diri kita saat ini. Padahal bila dilihat tantangan dan rintangan yang dihadapi sangat berat. Tantangan alam, geografis, budaya, maupun rintangan dari musuh-musuh dakwah. Tanpa keberanian mereka, perjalanan dakwah ini akan tertatih-tatih lantaran ketakutan yang melemahkan gerak dakwah ini.

Da’aimu Asy Syaja’ah (Pilar-pilar Keberanian)

Karena sikap asy syaja’ah merupakan tuntutan dakwah maka para kader mesti selalu memompa dan menopang keberaniannya agar kata takut dan pengecut tidak lagi melekat dalam dirinya. Takut dan pengecut tidak boleh ada dalam memperjuangkan dakwah. Adapun pilar-pilar yang menghantarkan diri seorang kader memiliki sifat asy syaja’ah adalah hal-hal berikut ini:

1. Al Iman bil Ghaib (Iman Dengan Yang Ghaib)

Penopang yang amat kokoh untuk menguatkan sikap asy syaja’ah dalam diri kader dakwah adalah memperkuat keyakinannya akan hal-hal yang ghaib. Seperti yakin akan pertolongan Allah SWT. Yakin akan malaikat-malaikat-Nya yang senantiasa membantu orang yang memperjuangkan agama Allah SWT. Begitu pula yakin akan kehidupan akhirat yang ditentukan oleh amaliyah kita di dunia ini, khususnya amal-amal dakwah.

Keyakinan pada hal yang ghaib memunculkan sikap berani, tak takut terhadap apa yang terjadi. Karena semua yang bakal terjadi telah menjadi ketentuan dalam kehidupan seseorang. Ia merupakan takdir yang telah ditetapkan. Sebagaimana pengalaman nyata yang menarik dari seorang kader dakwah yang diancam atas perjuangannya selama ini. Tatkala di atas kepalanya ditodongkan pistol. Lalu sang algojo mengatakan: “Mana Tuhanmu, Apakah ia bisa menyelamatkan kamu kalau pelatuk pistol ini kugerakkan. Dan hancurlah batok kepalamu berkeping-keping”. Jawab sang aktivis: “Bila Tuhanku tidak mengizinkan pistol itu meledak maka aku tidak akan mati. Atau kalaupun pistol itu meledak namun Tuhanku tidak menetapkan aku mati maka aku pun tidak akan mati”. Jawaban ini sebagai jawaban atas keyakinan pada Yang Ghaib, yakni Allah SWT.

Keyakinan semacam ini adalah buah dari tarbiyah yag telah menanamkan rasa takut hanya pada Allah SWT. dan senantiasa bergantung pada-Nya. Sehingga kader memiliki cantolan yang teramat kuat. Lantaran pegangan dirinya kepada yang Maha Kuat ia tidak pernah mundur menghadapi cobaan dan rintangan dakwah. Demikianlah hasil dari proses tarbiyah yang panjang, membina aktivis untuk senantiasa yakin dengan sebenar-benarnya pada kekuatan yang Ghaib.

Rasulullah SAW. telah mengingatkan Abu Bakar RA. akan keyakinan pada Rabbul Izzati. Di saat orang-orang kafir sudah berada di gua Tsur ingin membunuhnya. Abu Bakar hingga mencemaskan, Ya Rasulullah, sekiranya salah satu dari mereka melihat betisnya maka mereka pasti akan melihat kita. Nabi SAW. menenangkannya dengan menyatakan, ‘duhai Abu Bakar, apakah kamu mengira kita di sini Cuma berdua. Tidak, Abu Bakar, kita di sini bertiga. Janganlah takut dan gentar, Allah bersama kita.

Karenanya jiwa para kader tidak boleh luput untuk selalu berinteraksi pada Allah SWT. agar dikuatkan diri dan jiwa dalam memperjuangkan dakwah. Karena kemenangan para pejuang dakwah bukan ditentukan oleh kekuatan material melainkan kekuatan dari Yang Maha Perkasa.

2. Al Mujahadah Ala Al Khauf (Menaklukkan Rasa Takut)

Rasa takut sebagai lawan dari asy syaja’ah memang amat manusiawi. Kenyataan ini merupakan watak alamiyah yang dimiliki setiap insan. Seperti takut terbakar, tenggelam, terjatuh di mangsa binatang buas dan lain sebagainya. Namun rasa takut semacam itu harus berada di bawah khauf syar’i yakni takut kepada Allah SWT. Sehingga setiap kader dakwah sepatutnya menaklukkan rasa takut thabi’inya dengan mengkedepankan rasa takut kepada Rabbbul Izzati. Dengan begitu mereka akan ringan dalam memperjuangkan dakwah, tidak maju mundur lantaran ketakutan-ketakutan yang ada pada dirinya.

Hal tersebut secara indah dan heroik terlihat gamblang pada kisah Nabi Musa AS., Ibrahim AS. dan Muhammad SAW. Rasa takut pada kemungkinan tenggelam ke laut merah teratasi oleh ketenangan, optimisme dan keberanian Nabi Musa AS. yang senantiasa yakin Allah bersamanya dan akan menunjukinya jalan. Dan benar saja Allah memberinya jalan keluar berupa mukjizat berupa terbelahnya laut merah dengan pukulan tongkatnya sehingga bisa dilalui oleh Nabi Musa dan pengikutnya. Kemudian laut itu menyatu kembali dan menenggelamkan Firaun beserta tentaranya.

Kisah yang tak kalah mencengangkannya terlihat pada peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim AS. Rasa takut thabi’i terhadap api dan terbakar olehnya teratasi oleh rasa takut syar’i yakni takut kepada Allah saja. Dan subhanallah, pertolongan Allah datang dengan perintah-Nya kepada api agar menjadi dingin dan sejuk serta menyelamatkan Nabi Ibrahim AS.

Demikian juga apa yang dialami para murid-murid syeikh Umar Tilmisani yang harus menerima hukuman atas perjuangannya selama ini. Sang syeikh digugat oleh murid-muridnya yang telah disiksa musuh-musuh dakwah. Ada yang digantung, ada yang disetrum, ada yang dibunuh. Para murid meminta syeikh untuk keringanan hukuman yang mereka derita karena rasa takut yang luar biasa. Syeikh mengusir rasa takut murid-muridnya dengan menyatakan, ‘wahai murid-muridku. Musuh-musuh Allah itu bisa berbuat apa saja pada kita. Mereka mampu mencincang kita, mereka juga dapat menggantung kita, mereka juga bisa membunuh kita. Namun ada hal yang harus kamu yakini bahwa mereka tidak akan pernah melakukannya di tempat yang tidak ada Allahnya. Pasti Allah bersama kalian dalam berbagai keadaan”.

Selayaknya setiap kader dakwah selalu menundukkan rasa takut insaniyahnya dengan mendominasikan rasa takut syar’inya. Sehingga yang selalu tertanam dalam dirinya hanya takut pada Allah semata. Dan tidak pernah gentar akan kekuatan-kekuatan selain Allah SWT.

3. Taurits Al Khairiyah (Mewariskan Hal Yang Terbaik)

Penopang lainnya adalah dengan mempertimbangkan keadaan generasi berikutnya harus lebih baik dari sebelumnya. Maka warisan yang ditinggalkan untuk mereka adalah warisan-warisan kemuliaan. Sehingga mereka mengikuti jejak para pendahulunya yang mempunyai akhlaq mulia. Bila menginginkan generasi sesudahnya menjadi pemberani maka wariskan sifat berani pada mereka. Namun bila mewariskan sifat takut dan pengecut maka jangan harap generasi berikutnya menjadi orang-orang yang heroik dan patriotik.

Abul ‘Ala Al Maududi menegaskan bahwa untuk mewariskan keturunan dan generasi yang lebih baik maka jangan lakukan sifat-sifat rendahan. Karena itu akan menjadi contoh bagi mereka. Ingatlah kebaikan akan mewariskan kebaikan dan keburukan akan mewarisi keburukan pula. Oleh karena itu Allah SWT. telah mengingatkan agar memperhatikan nasib generasi berikutnya dengan mewariskan nilai-nilai kebaikan untuk menjadi dhawabith khairiyah bagi mereka.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (Q.S. An Nisa’: 9)

Adalah hal yang patut dipikirkan para kader dakwah untuk selalu menanamkan tekad dan kemauan agar melahirkan generasi yang terbaik dengan selalu berpegang pada sikap-sikap keteladanan yang di antaranya sikap asy syaja’ah.

4. As Shabru Ala Ath Tha’ah (Bersabar Terhadap Ketaatan)

Keberanian akan terus ada pada diri kader bila mereka bersabar. Sabar terhadap peristiwa yang mereka alami. Karena kesabaran itu merupakan senjata yang ampuh yang memberikan ketahanan menghadapi tekanan berat sekalipun. Dengan kesabaran kita pun dapat membandingkan kejadian yang dirasakan generasi yang lalu dengan yang sedang kita rasakan . Mereka tentu telah mengalami cobaan yang lebih berat ketimbang yang kita alami saat ini. Dengan kesabaran ini kita dapat bertahan dan terus maju melangkah di atas jalan dakwah dengan gagah berani.

Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saat menasihati Khabbab bin Al Arts yang berkeluh kesah atas beratnya penderitaan yang dialaminya, beliau mengingatkan Khabbab akan perjuangan para Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu yang jauh lebih berat tapi mereka tetap berani dan tabah. Jadi kita bisa memupuk keberanian dan kesabaran dengan berkata, “Ah… cobaan ini belum seberapa dibanding yang pernah dialami orang-orang shaleh terdahulu”.

Oleh sebab itu bekal kesabaran tidak boleh dalam keadaan defisit. Kesabaran mesti dalam kondisi yang selalu cukup dan bertambah. Karena kesabaran yang kuat menjadi tameng dalam menyelamatkan diri atas cobaan-cobaan berat dakwah ini. Allah SWT. pun mengingatkan agar senantiasa bersabar dan menguatkan kesabaran.

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. ( Ali Imran: 200)

5. Al Ajru min Allah (Berharap Balasan Dari Allah)

Seorang kader juga bisa mengusung dakwah ini dengan berani karena berharap balasan yang besar dari Allah SWT. Balasan yang dijanjikan ini meminimalkan perasaan takut akan ancaman dalam memperjuangkan dakwah. Rasa takut akan segera sirna bila balasan yang dijanjikan jauh lebih besar dari apa yang diderita saat itu. Bahkan balasan yang pasti diberikan itu dapat memompa semangat juang kader untuk terus berada di jalan dakwah dan memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan. Maka balasan Allah SWT. itu seyogianya tervisualisasi dengan baik pada diri kader dakwah. Seakan-akan semua balasan itu ada di pelupuk mata.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Fushshilat: 30 – 32)

Bila balasan yang dijanjikan Allah SWT. senantiasa terngiang-ngiang dalam benak kader maka tidak ada alasan untuk takut dan pengecut. Rasulullah SAW. mengingatkan Abdullah bin Harits yang mengungkapkan keinginannya untuk masuk Islam. Namun ia perlu mengajukan dua syarat yang memang terjadi pada dirinya. Pertama, tidak dibebankan infak karena dia orang yang termiskin di keluarga dan kabilahnya dan tidak pula diwajibkan berperang karena dia seorang yang penakut. Nabi menjawab, ‘wahai Abdullah, bila itu kamu syaratkan lalu dengan apa kamu akan masuk syurga?’. Maka Abdullah menandaskan, ‘kalau begitu, ya Rasulullah aku akan berinfak dan akan berjuang di jalan Allah SWT’. Begitulah akhirnya Abdullah bin Harits berada di barisan terdepan di jalan dakwah tanpa rasa takut dan lemah.

Syaja’ah atau pemberani tentu saja berbeda dengan bersikap nekat, “ngawur” atau tanpa perhitungan dan pertimbangan. Asy syaja’ah adalah keberanian yang didasari pertimbangan matang dan penuh perhitungan karena ingin meraih ridha Allah. Dan untuk meraih ridha Allah, tentu saja diperlukan ketekunan kecermatan dan kerapian kerja (itqan). Bukan keberanian yang tanpa perhitungan yang melahirkan kenekatan, namun juga bukan terlalu perhitungan dan pertimbangan yang melahirkan ketakutan.
Perwujudan sikap asy syaja’ah dalam kehidupan ini amatlah banyak terlebih dalam memperjuangkan dakwah. Implementasinya bisa bermacam-macam. Di antaranya:

a. Quwwatul Ihtimal (Memiliki Daya Tahan Yang Besar)

Seseorang dapat dikatakan memiliki sifat berani jika ia memiliki daya tahan yang besar untuk menghadapi kesulitan, penderitaan dan mungkin saja bahaya dan penyiksaan karena ia berada di jalan Allah.

Begitu banyak orang yang tidak memiliki daya tahan tinggi terhadap segala tantangan dan kesulitan sehingga mudah surut, menyerah atau berputus-asa. Padahal dalam kehidupan yang semakin berat dan sulit dewasa ini begitu banyak tantangan dan marabahaya yang harus disikapi dan dihadapi dengan berani, karena bersikap pengecut dan melarikan diri dari persoalan hidup yang berat tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Apalagi dalam perjuangan dakwah untuk mencapai kemenangannya.

Daya tahan yang besar terhadap tekanan memberikan kemampuan menanggung beban-beban berat sendirian tanpa menyertakan yang lainnya. Malah ia ingin saudara-saudaranya tidak boleh mengalami kesulitan lantaran dirinya. Bila perlu ia yang menanggung penderitaan saudaranya yang lain. Begitulah kekuatan daya tahan kader dakwah yang patriotik.

Khubaib bin ‘Ady pernah ditawari Abu Sufyan ketika akan dieksekusi mati. ‘Wahai Hubaib bagaimana kalau dirimu digantikan oleh Muhammad yang akan menduduki kursi pesakitan itu. Khubaib menjawab, Demi Allah yang diriku dalam genggaman-Nya. Aku tidak akan rela bila Muhammad menggantikan diriku begini. Kalau sekiranya aku tahu bahwa Muhammad sekarang ini tertusuk duri maka aku tidak bisa tenang dan aku beserta keluargaku akan menggantikannya menderita karena tertusuk duri. Inilah daya tahan yang kuat, berani menanggung beban resiko sendirian dan tidak ingin melibatkan kesulitan dirinya pada saudaranya.

b. As Sharahah fi Al Haq (Berterus Terang pada Kebenaran)

Keterus terangan dalam kebenaran sebagai indikasi keberanian. Sekalipun hal itu akan mengundang ekses padanya. Terkadang ada yang tidak bisa menerimanya. Ada juga yang memusuhinya. Ada pula yang mengancamnya. Bahkan ada pula yang tidak siap mendengarnya lalu membunuhnya.

Mengatakan yang benar dengan terus terang memang sesuatu yang pahit bila dilihat dari sisi dampak yang bakal muncul. Namun bila dilihat dari sisi manfaat dan izzah keimanan ia menjadi sebuah keharusan. Sebagaimana sabda Nabi SAW. ‘Qulil haq walau kaana muuran’ (katakan yang benar meskipun itu pahit) dan berkata benar di hadapan penguasa yang zhalim adalah juga salah satu bentuk jihad bil lisan. Jelas saja dibutuhkan keberanian menanggung segala resiko bila kita senantiasa berterus terang dalam kebenaran.

Tidak sedikit orang tergelincir dalam bersikap lalu ia berdusta atau diam karena khawatir akan resiko-resikonya. Sikap ini dipilih untuk mencari jalan selamat. Atau memang ia seorang pengecut dan penakut. Padahal sangat mungkin penguasa itu mendapatkan hidayah bila seseorang menyampaikan kebenaran tanpa rasa takut kepadanya. Ada seorang penguasa zhalim menginsafi dirinya. Sang penguasa menangis atas nasihat yang diucapkan seorang ulama yang berani memaparkan kebenaran padanya.

Sikap berani menyampaikan kebenaran yang mengandung resiko berat menjadi harga diri seorang kader dalam memperjuangkan dakwah. Para musuh tidak akan menganggap miring pada orang-orang yang mempunyai sikap ini. Malah mungkin sangat dipandang. Paling tidak sang penguasa akan gentar menghadapinya.

Syeikh Umar Tilmisani sewaktu mendengar pidato Jamal Abdul Nasher. Sesudahnya ia berkata lantang. ‘Kalau saja yang berpidato tadi bukan anda maka akan aku adukan pada anda kasus ini. Akan tetapi karena anda yang mengucapkannya maka akan aku adukan pada Tuhanku dan Tuhanmu’. Mendengar teguran sang syeikh, Jamal Abdul Nasher tertunduk diam tanpa mengucapkan sepatah kata bantahan.

c. Kitmanu As Sirri (Kemampuan Menjaga Rahasia)

Kemampuan menyimpan rahasia merupakan bentuk keberanian yang bertanggung jawab. Orang yang berani adalah orang yang bekerja dengan baik, cermat dan penuh perhitungan terutama dalam persiapan jihad menghadapi musuh-musuh Islam termasuk di dalamnya mampu menyimpan rahasia dengan serapat-rapatnya. Sebab kerahasiaan adalah tanggungan yang harus disimpan dengan baik meski beresiko tinggi. Ia bukanlah sesuatu yang diumbar-umbar kepada orang yang tidak berhak. Apalagi terhadap kerahasiaan dakwah. Karena terbongkarnya sebuah kerahasiaan akan berakibat fatal. Sangat banyak operasional dakwah berantakan karena tersiarnya rahasia dakwah.

Menyimpan rahasia bukanlah hal yang gampang. Ia merupakan pekerjaan berat yang tidak sembarang orang mampu melakukannya. Hanya orang-orang yang berani dan terampil menyimpan rahasia sajalah yang dapat melakukannya. Karenanya sahabat Rasulullah SAW. yang memiliki kemampuan ini tidaklah banyak. Mereka adalah sahabat pilihan Nabi SAW. untuk bisa menjaganya. Ada pepatah yang menyatakan bahwa selamatnya manusia tergantung dalam menjaga lidahnya. Tentu juga termasuk di dalamnya adalah menjaga kerahasiaan. Ini sangat ditentukan oleh keberanian menanggung beban akibat dari rahasia yang dipikulnya.

Huzaifah ibnul Yaman RA. seorang sahabat Nabi yang dikenal dengan sebutan Shohibus sirri. Dia dapat menyimpan rahasia dengan baik. Hingga tidak diketahui yang lain akan tugas dan tanggung jawabnya menjaga rahasia. Dia berani menghadapi konsekwensinya sekalipun terasa amat berat. Akan tetapi yang membuat gentar dirinya adalah bila tertangkap musuh.

Sebagaimana yang pernah ia ungkapkan pada Rasulullah SAW. ‘Ya Rasulullah, saya tidak takut bila harus mati akan tetapi yang aku takutkan adalah bila aku tertangkap.

d. Al ‘Itirafu bil Khatha’i (Mengakui Kesalahan)

Salah satu orang yang memiliki sifat pengecut adalah tidak mau mengakui kesalahan, mencari kambing hitam dan bersikap “lempar batu, sembunyi tangan”. Sebaliknya orang yang memiliki sifat syaja’ah adalah berani mengakui kesalahan, mau meminta maaf, bersedia mengoreksi kesalahan dan bertanggung jawab.

Memang mengakui kesalahan tidaklah mudah. Kadang ada rasa malu, perasaan takut dikucilkan, perasaan cemas akan pandangan sinis orang lain karena kesalahannya. Padahal mengakui kesalahan diri sendiri sangat menguntungkan. Sebab ia lantas bisa melihat kesalahan dirinya. Ia pun tidak menyalahkan orang lain. Ia juga akan cepat memperbaiki dirinya. Dan berani mengakui kesalahannya akan membuka pintu keinsafan selebar-lebarnya.
Allah SWT. memberikan contoh pelajaran dari sikap Nabi Adam AS. ketika melakukan kesalahan, ia tidak limpahkan kesalahan itu pada setan yang menggodanya. Akan tetapi ia lebih memberatkan dirinya sehingga terbukalah pintu ampunan untuknya.

“Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Al ‘Araf: 23).

e. Al Inshafu min Ad Dzati (Bersikap Obyektif Pada Diri Sendiri)

Ada orang yang cenderung bersikap over estimasi terhadap dirinya, menganggap dirinya baik, hebat, mumpuni dan tidak memiliki kelemahan serta kekurangan. Sebaliknya ada yang bersikap under estimasi terhadap dirinya yakni menganggap dirinya bodoh, tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak memiliki kelebihan apapun. Kedua sikap tersebut jelas tidak proporsional dan tidak obyektif. Orang yang berani akan bersikap obyektif, dalam mengenali dirinya yang memiliki sisi baik dan buruk.
Obyektif dalam memandang diri sendiri akan membuka kesempatan pada orang lain untuk ikut berperan serta. Malah ia akan sangat berhajat pada keberadaan orang lain. Karena ia tahu benar bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa partisipasi yang lainnya. Di samping itu ia pun tidak akan meremehkan kemampuan dirinya. Sehingga ia bisa berbuat lebih banyak secara optimal dari potensi miliknya.

Umar bin Abdul Aziz saat diangkat menjadi khalifah, ia berpidato di hadapan khalayak rakyatnya. ‘Aku bukanlah orang yang paling baik dari kalian. Aku hanyalah manusia seperti kalian akan tetapi aku mendapatkan amanah yang amat besar melebihi kalian. Karena itu bantulah diriku dalam menunaikan amanah ini’. begitulah layaknya orang yang berani memandang kemampuan dirinya secara obyektif.

f. Milku An Nafsi ‘inda Al Ghadhabi (Menahan Nafsu di saat Marah)

Seseorang dikatakan berani bila ia tetap mampu bermujahadah li nafsi, melawan nafsu dan amarah. Kemudian ia tetap dapat mengendalikan diri dan menahan tangannya padahal ia punya kemampuan dan peluang untuk melampiaskan amarahnya. Orang yang bisa lakukan itu dipandang sebagai orang kuat karena kemampuannya menahan amarah.

Amarah dapat menggelincirkan manusia pada sikap serampangan. Ia akan kehilangan kontrol diri. Bisa jadi ia lupa diri akan sikapnya yang keliru. Malah ia tak akan pernah menemukan solusi jitu akan masalahnya. Oleh karena itu Islam memerintahkan untuk bisa mengendalikan diri dari amarah. Sampai-sampai Rasulullah SAW. mengajarkan untuk tidak amarah berulang-ulang. Bila masih muncul perasaan itu maka rubahlah posisi dirinya. Bila juga masih berkobar-kobar maka pergilah dan ambillah wudhu. Karena rasa marah dari setan. Setan diciptakan dari api. Dan api bisa mati disiram dengan air.

Keberanian adalah kelaziman dalam dakwah dan menjadi sikap yang melekat dalam diri sang kader. Ia adalah identitas pengemban amanah umat untuk bisa menunaikan tugas berat yang diusungnya. Ingat-ingatlah senandung para senior dakwah yang menggumankan:

“Di dalam hatiku selalu terdengar suara Nabi yang memerintahkan, ‘Berjihadlah, berjuanglah dan lelahkanlah dirimu’. Dan berseru, ‘Menanglah, kalahkanlah musuh dan berlatihlah jadilah kamu selamanya orang merdeka yang pantang menyerah. Hai pemberani lakukanlah karena kita punya hari esok dan harapan”.

Minggu, 16 Januari 2011

salman al-farisi

Salman al-Farisi adalah sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari Persia. Dikalangan sahabat lainnya ia dikenal dan dipanggil dengan nama Abu Abdullah.

Salman al-Farisi pada awal hidupnya adalah seorang bangsawan dari Persia, sebagai seorang Persia ia menganut agama Majusi, tapi ia tidak merasa nyaman dengan agamanya. Kemudian ia mengalami pergolakan batin untuk mencari agama yang dapat menentramkan hatinya. Pencarian agamanya membawa hingga ke jazirah Arab dan akhirnya memeluk agama Islam.

Ia menjadi pahlawan dengan ide membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam pertempuran khandaq. Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, ia dikirim untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya, hingga ia wafat.

( Perantau Sejati Dalam Mencari Kebenaran )

Dari Persi datangnya pahlawan kali ini. Dan dari Persi pula Agama Islam nanti dianut oleh orang-orang Mu'min yang tidak sedikit jumlahnya, dari kalangan mereka muncul pribadi-pribadi istimewa yang tiada taranya, baik dalam bidang kedalaman ilmu pengetahuan dan ilmuan dan keagamaan, maupun keduniaan.

Dan memang, salah satu dari keistimewaan dan kebesaran al-Islam ialah, setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka dengan keajaiban luar biasa dibangkitkannya setiap keahlian, digerakkannya segala kemampuan serta digalinya bakat-bakat terpendam dari warga dan penduduk negeri itu, dokter-dokter Islam, ahli-ahli astronomi Islam, ahli-ahli fiqih Islam, ahli-ahli ilmu pasti Islam dan penemu-penemu mutiara Islam.

Ternyata bahwa pentolan-pentolan itu berasal dari setiap penjuru dan muncul dari setiap bangsa, hingga masa-masa pertama perkembangan Islam penuh dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam segala lapangan, baik cita maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsanya, tetapi satu Agama. Dan perkembangan yang penuh berkah dari Agama ini telah lebih dulu dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahkan beliau telah menerima janji yang benar dari Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Mengetahui. Pada suatu hari diangkatlah baginya jarak pemisah dari tempat dan waktu, hingga disaksikannyalah dengan mata kepala panji-panji Islam berkibar di kota-kota di muka bumi, serta di istana dan mahligai-mahligai para penduduknya.

Salman radhiyallahu 'anhu sendiri turut menyaksikan hal tersebut, karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu. Peristiwa itu terjadi waktu perang Khandaq, yaitu pada tahun kelima Hijrah. Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekah menghasut orang-orang musyrik dan golongan-golongan kuffar agar bersekutu menghadapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Kaum Muslimin, serta mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan yang akan menumbangkan serta mencabut urat akar Agama baru ini.

Siasat dan taktik perang pun diaturlah secara licik, bahwa tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerang-nya dari dalam -- yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimin sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenanya mereka akan hancur lumat dan hanya tinggal nama belaka.

Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah, membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin panik dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran sebagai berikut:

Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah. (Q.S. 33 al-Ahzab:l0)

24.000 orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Agama serta para shahabatnya.

Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka. Dan peristiwa ini merupakan percobaan akhir dan menentukan dari fihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan, maupun dari suku dan golongan.

Kaum Muslimin menginsafi keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam-pun mengumpulkan para shahabatnya untuk bermusyawarah. Dan tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu?

Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Itulah dia Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu!' Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar Madinah, dan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya kota itu di lingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng juga layaknya. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.

Di negerinya Persi, Salman radhiyallahu 'anhu telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini. Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota.

Dan hanya Allah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit atas usul Salman radhiyallahu 'anhu tersebut.

Demi Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota.

Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta'ala mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka ... dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit ...

Sewaktu menggali parit, Salman radhiyallahu 'anhu tidak ketinggalan bekerja bersama Kaum Muslimin yang sibuk menggali tanah. Juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ikut membawa tembilang dan membelah batu. Kebetulan di tempat penggalian Salman radhiyallahu 'anhu bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada sebuah batu besar.

Salman radhiyallahu 'anhu seorang yang berperawakan kuat dan bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedang bantuan dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka.

Salman radhiyallahu 'anhu pergi mendapatkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan minta idzin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun pergi bersama Salman radhiyallahu 'anhu untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tadi. Dan setelah menyaksikannya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta sebuah tembilang dan menyuruh para shahabat mundur dan menghindarkan diri dari pecahan-pecahan batu itu nanti....

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya ke batu besar itu. Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi. "Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah", kata Salman radhiyallahu 'anhu, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan takbir, sabdanya:

Allah Maha Besar! aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua itu.

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat tembilang itu kembali dan memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya. Maka tampaklah seperti semula tadi. Pecahan batu besar itu menyemburkan lambaian api yang tinggi dan menerangi, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertakbir sabdanya:

Allah Maha Besar! aku telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya.

Kemudian dipukulkannya untuk ketiga kali, dan batu besar itu pun menyerah pecah berderai, sementara sinar yang terpancar daripadanya amat nyala dan terang temarang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun mengucapkan la ilaha illallah diikuti dengan gemuruh oleh kaum Muslimin. Lalu diceritakanlah oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau sekarang melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan'a, begitu pun di daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar. Maka dengan keimanan penuh Kaum Muslimin pun serentak berseru: Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya .... Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.

Sabtu, 25 Desember 2010

Si Hidung Besar Lebih Terlindung dari Penyakit

Beberapa orang memiliki hidung yang lebih besar dibandingkan dengan orang lain. Tapi hidung besar bisa membawa keberuntungan bagi orang tersebut, karena melindunginya lebih besar dari penyakit.

Mitos yang berkembang di masyarakat mengenai hidung besar adalah suatu tanda bahwa orang tersebut memiliki kecerdasan tinggi atau keturunan bangsawan. Namun keuntungan yang lebih besar justru bisa didapatkan orang tersebut, yaitu dapat melindunginya dari berbagai penyakit.

Para peneliti telah menemukan bahwa meskipun hidung besar seringkali menjadi bahan ejekan, namun hal yang paling penting adalah membantu pemiliknya mencegah terkena infeksi dan virus flu.

Semakin besar hidung, maka secara fisik semakin besar penghalang alami yang dapat menghentikan debu, bakteri atau partikel di udara untuk memasuki tubuh seseorang.

Berdasarkan penelitian, didapatkan bahwa hidung yang besar menghirup hampir 7 persen lebih sedikit polusi. Selain itu hidung ini juga bertindak sebagai penghalang untuk menangkis kuman yang berasal dari mulut dan mengurangi efek demam.

Hal ini tentu saja bisa menjadi berita baik untuk aktris Sex And The City Sarah Jessica Parker, penyanyi Barbra Streisand dan Barry Manilow serta aktor Gerard Depardieu yang dikenal dengan hidung besarnya.

Untuk mendapatkan kesimpulan seperti ini, para peneliti membuat dua hidung buatan yang mana salah satu hidung memiliki ukuran 2,3 kali lebih besar dari hidung yang lain.

Setiap hidung diletakkan di kepala buatan dan pada gilirannya akan divariasikan dengan dua set bibir yang juga dalam berbagai ukuran. Bibir ini menutupi ujung tabung dan menarik udara yang mengandung berbagai partikel.

Hasil penelitian menunjukkan sebesar 6,5 persen partikel lebih sedikit terhirup oleh hidung yang besar, dan ternyata bibir yang besar juga mengurangi masuknya partikel sebesar 3,2 persen.

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari University of Iowa, Amerika Serikat dan diterbitkan dalam jurnal Annals Of Occupational Hygiene.

“Batang hidung yang keras akan memberikan perlindungan yang lebih baik untuk mulut. Selain itu hidung besar juga akan menurunkan risiko orang tersebut terinfeksi,” ujar Dr Renee Anthony, pemimpin penelitian, seperti dikutip dari Dailymail

Teka-teki Imam Al- Ghazali Teka-teki Imam Al- Ghazali

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya (Teka Teki ) :

Imam Ghazali = ‘ Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?

Murid 1 = ‘ Orang tua ‘

Murid 2 = ‘ Guru ‘

Murid 3 = ‘ Teman ‘

Murid 4 = ‘ Kaum kerabat ‘

Imam Ghazali = ‘ Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185). .

Imam Ghazali = ‘ Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?’

Murid 1 = ‘ Negeri Cina ‘

Murid 2 = ‘ Bulan ‘ Murid 3 = ‘

Matahari ‘ Murid 4 = ‘ Bintang-bintang ‘

Iman Ghazali = ‘ Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama’. .

Iman Ghazali = ‘ Apa yang paling besar didunia ini ?’

Murid 1 = ‘ Gunung ‘

Murid 2 = ‘ Matahari ‘

Murid 3 = ‘ Bumi ‘

Imam Ghazali = ‘ Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.’

IMAM GHAZALI’ Apa yang paling berat didunia? ‘

Murid 1 = ‘ Baja ‘

Murid 2 = ‘ Besi ‘

Murid 3 = ‘ Gajah ‘

Imam Ghazali = ‘ Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.’

Imam Ghazali = ‘ Apa yang paling ringan di dunia ini ?’

Murid 1 = ‘ Kapas’

Murid 2 = ‘ Angin ‘

Murid 3 = ‘ Debu ‘

Murid 4 = ‘ Daun-daun’

Imam Ghazali = ‘ Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat ‘ Imam Ghazali = ‘ Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? ‘ Murid- Murid dengan serentak menjawab = ‘ Pedang ‘

Imam Ghazali = ‘ Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri ‘


Kamis, 16 Desember 2010

Fatimah Az Zahra Binti Rasulullah

Pemimpin wanita pada masanya ini adalah pui ke 4 dari anak anak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid. Sesungguhnya allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki kelahiran Fathimah yang mendekati tahun ke 5 sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah sebagai menengah ketika terjadi perselisiha antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakan kembali Hajar Aswad setelah Ka’abah diperbaharui. Dengan kecerdasan akalnya beliau mampu memecahkan persoalan yang hampir menjadikan peperangan diantara kabilah-kabilah yang ada di Makkah.

Kelahiran Fahimah disambut gembira oleh Rasulullahu alaihi wassalam dengan memberikan nama Fathimah dan julakannya Az-Zahra, sedangkan kunyahnya adalah Ummu Abiha (Ibu dari bapaknya).

Ia putri yang mirip dengan ayahnya, Ia tumbuh dewasa dan ketika menginjak usia 5 tahun terjadi peristiwa besar terhadap ayahnya yaitu turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban oleh ayahnya. Dan ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan kepada ayahnya.sampai cobaan yang berat dengan meninggal ibunya Khadijah. Ia sangat pun sedih dengan kematian ibunya.

Pada saat kaum muslimin hijrah ke madinah, Fathima dan kakanya ummu Kultsum tetap tinggal di Makkah sampai Nabi mengutus orang untuk menjemputnya.Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar, para sahabat berusaha meminag Fathimah. Abu Bakar dan Umar maju lebih dahulu untuk meminang tapi nabi menolak dengan lemah lembut.Lalau Ali bin Abi Thalib dating kepada Rasulullah untuk melamar, lalu ketika nabi bertanya, “Apakah engkau mempunyai sesuatu ?”, Tidak ada ya Rasulullah,” jawabku. “ Dimana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan kepadamu,” Tanya beliau. “ Masih ada padaku wahai Rasulullah,” jawabku. “Berikan itu kepadanya (Fatihmah) sebagai mahar,”.kata beliau.

Lalu ali bergegas pulang dan membawa baju besinya, lalu Nabi menyuruh menjualnya dan baju besi itu dijual kepada Utsman bin Affat seharga 470 dirham, kemudian diberikan kepada Rasulullah dan diserahkan kepada Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin.

Kaum muslim merasa gembira atas perkawinan Fathimah dan Ali bin Abi Thalib, setelah setahun menikah lalu dikaruniai anak bernama Al- Hasan dan saat Hasan genap berusia 1 tahun lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun ke 4 H. pada tahun kelima H ia melahirkan anak perempuan bernama Zainab dan yang terakhir benama Ummu Kultsum.

Rasullah sangat menyayangi Fathimah, setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu menemui Fathimah sebelum menemui istri istrinya. Aisyah berkata ,” Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah selain Fathimah, jika ia datang mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fathimah bila Rasulullah datang mengunjunginya.”.

Rasulullah mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:” Sungguh Fathima bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fathimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”.

Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menjalankan haji wada’ dan ketika ia melihat Fathima, beliau menemuinya dengan ramah sambil berkata,” Selamat datang wahai putriku”. Lalu Beliau menyuruh duduk disamping kanannya dan membisikan sesuatu, sehingga Fathimah menangis dengan tangisan yang keras, tak kala Fathimah sedih lalu Beliau membisikan sesuatu kepadanya yang menyebabkan Fathimah tersenyum.

Takala Aisyah bertanya tentang apa yang dibisiknnya lalu Fathimah menjawab,” Saya tak ingin membuka rahasia”. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah bertanya lagi kepada Fathimah tentang apa yang dibisikan Rasulullah kepadanya sehingga membuat Fathimah menangis dan tersenyum. Lalu Fathimah menjawab,” Adapun yang Beliau bilang kepada saya pertama kali adalah beliau memberitahu bahwa sesungguhnya Jibril telah membacakan al-Qura’an dengan hapalan kepada beliau setiap tahun sekali, sekarang dia membacakannya setahun 2 kali, lalu Beliau berkata “Sungguh saya melihat ajalku telah dekat, maka bertakwalah dan bersabarlah, sebaik baiknya Salaf (pendahulu) untukmu adalah Aku.”. Maka akupun menangis yang engkau lihat saat kesedihanku. Dan saat Beliau membisikan yang kedua kali, Beliau berkata,” Wahai Fathimah apakah engkau tidak suka menjadi penghulu wanita wanita penghuni surga dan engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku”. Kemudian saya tertawa.

Takala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, Fathimah jatuh sakit, namaun ia merasa gembira karena kabar gembira yang diterima dari ayahnya. Tak lama kemudian iapun beralih ke sisi Tuhannya pada malam selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.

Minggu, 05 September 2010

Daphnia sp

1. Klasifikasi Daphnia

Daphnia sp. Dapat diklasifikasikan dalam :

Filum : Arthropoda

Kelas : Crustacea

Subklas : Branchiopoda

Divisi : Oligobranchiopoda

Ordo : Cladocera

Famili : Daphnidae

Genus : Daphnia

Spesies : Daphnia sp


2. Morfologi Daphnia

Jasad renik ini disebut juga kutu air, bentuk tubuhnya memampat kesamping dan terdapat ruas – ruas (buku) pada tubuh. Dinding tubuh bagian punggung membentuk lipatan yang menutupi bagian tubuh serta anggota – anggota tubuhnya sehingga kelihatan seperti cangkang kerang. Pada bagian belakang cangkang terdapat sebuah kantung berfungsi sebagai tempat penampungan dan perkembangan telur. Daphnia sp. merupakan organisme yang bersifat planktonik dan bergerak aktif dengan alat geraknya, yaitu kaki renang (Khairuman, dkk. 2002).Tubuh daphnia berbentuk lonjong, pipih, dan segmen tubuh tidak terlihat. Tubuh tertutup oleh cangkang yang terbuat dari kitin transparan.

Pada bagian belakang cangkang ada sebuah kantong yang berfungsi sebagai tempat penampungan dan perkembangan telur. Ukuran daphnia sekitar 1.000 – 5.000 mikron (Lukito, dkk. 2007).

Daphnia atau kutu air berbentuk lonjong agak pipih dan berukuran sedikit lebih besar dari pada moina, yakni 1 -2 mm. warna daphnia juga lebih merah dari moina (Bachtiar, dkk. 2008).

Daphnia cenderung hampir berbentuk ginjal, hanya memiliki mata majemuk tunggal (meskipun mereka memiliki ocellus, mata sederhana), doubly-bercabang dua antena (sering setengah panjang tubuh atau lebih), dan anggota badan daun-seperti di dalam karapas yang menghasilkan suatu aliran air yang membawa makanan dan oksigen ke mulut dan insang. Tubuh nya hampir transparan dan dengan mikroskop detak jantung dapat terlihat, dan kadang-kadang bahkan makan terakhir mereka dapat terlihat (usus mungkin tampak hijau jika individu telah makan alga).

Karapas A meliputi tubuh, termasuk 4-6 pasang pelengkap dada, dan digunakan sebagai ruang anak-anak. Perut dan pasca-perut (distal anus) adalah umumnya maju membungkuk di bawah dada. Pasca-perut dikenakan dua cakar besar yang digunakan terutama untuk membersihkan puing-puing dari karapas tersebut. Kolam dilakukan dengan stroke ke bawah dari kedua antena besar.

Dalam kebanyakan spesies gerakan kompleks dari pelengkap toraks menghasilkan arus konstan air antara katup. partikel kecil (kurang dari 50 mikron diameter) dalam air yang disaring oleh setae halus di dada dan kaki bergerak sepanjang alur di pangkal kaki ke mulut. Meskipun ada beberapa bukti bahwa jenis makanan tertentu, seperti jenis ganggang tertentu, protozoa, atau bakteri dapat dipilih oleh beberapa spesies, umumnya percaya bahwa semua partikel organik ukuran yang cocok dicerna tanpa mekanisme selektif. Ketika materi yang tidak diinginkan atau massa kusut besar diperkenalkan antara rahang, mereka mungkin dihapus oleh duri pada kaki pertama dan kemudian dikeluarkan dari karapas oleh perut pasca.

Jantan dibedakan dari betina dengan ukuran lebih kecil, antennules lebih besar, diubah pasca-perut, dan kaki pertama yang dipersenjatai dengan kait yang digunakan dalam menggenggam.

Dewasa daphnia berbagai ukuran dari setengah milimeter ke hampir sentimeter, tergantung pada spesies, meskipun dalam satu spesies tertentu, ukuran dapat sangat bervariasi (Daphnia magna perempuan dapat antara 3 mm dan 5 mm).

Warna kadang-kadang digunakan sebagai cara untuk mengidentifikasi spesies, tetapi ini dapat menjadi indikator yang sangat jelas karena dalam suatu spesies, warna genetis identik individu bisa sangat berbeda karena fisiologi adaptif dari Daphnia - dalam air yang memiliki kadar oksigen rendah, Daphnia cenderung mengembangkan hemoglobin lebih untuk meningkatkan penyerapan oksigen dari air. Oxy-hemoglobin, yaitu bahwa yang terikat secara koordinatif oksigen, yang berwarna merah dan ini memberikan tembus tubuh daphnia suatu pigmentasi merah. Individu-individu dari strain yang sama dalam lingkungan yang kaya oksigen cenderung kuning atau hampir tidak berpigmen. Contoh spesies yang tampaknya ada dengan hemoglobin sangat sedikit dibandingkan dengan anggota lain dari genus, adalah Daphnia hyalina Hal ini biasanya ditemukan di danau air terbuka di mana oksigen terlarut banyak. Warnanya juga dikelola oleh makanan apa yang mendominasi dalam makanan. Daphnia diberi ganggang hijau akan transparan dalam warna hijau, sementara mereka makan pada bakteri akan salmon pink.




3. Sifat – Sifat Ekologi dan Fisiologis

Cara hidup daphnia ini yaitu sebagai planktonik yang melayang didalam air. Berkembang biak dengan cara bertelur. Telur – telur dihasilkan oleh induk betina dan ditampung dalam kantung telur yang terletak di daerah punggung. Telur berkembang tanpa proses perkawinan (partenogenesis). Daphnia sp. memerlukan suhu lingkungan 22-31°C dan pH 6,5 – 7,4. siklus hidup daphia kurang lebih 12 hari dan pada umur 4 hari sudah mencapai stadia dewasa (khairuman, dkk. 2002)

Perkembangbiakan daphnia dilakukan secara partogenesis (bertelur tanpa kawin). Dari telur tersebut, akan dihasilkan induk betina. Dalam kantong di bagian belakang cangkang, telur akan berkembang menjadi nauplus. Nauplus ini baru akan dikeluarkan dari tubuh induknya jika induknya mengalami ganti kulit . Umur daphnia sekitar 34 hari dan mulai bertelur pada umur 5 hari. Daphia hidup di air tawar, habitat aslinya di danau dan di kolam. Perairan yang baik untuk pertumbuhannya yaitu bersuhu 21°C dan pH 6,5 – 9. Secara alami, daphnia memakan fitoplankton, detrus, dan zooplankton (Lukito, dkk. 2007).

Pada lingkungan yang baik, hanya terbentuk individu betina tanpa individu jantan. Pada kondisi ini, telur dierami di dalam kantong pengeraman hingga menetas dan anak Daphnia sp. dikeluarkan pada waktu pergantian kulit. Didalam kondisi yang mulai memburuk, disamping individu betina dihasilkan individu jantan yang dapat mendominasi populasi dengan perbandingan 1 : 27. Dengan munculnya individu jantan, populasi yang bereproduksi secara seksual akan membentuk efipia atau “resting egg” disebut juga siste yang akan menetas jika kondisi perairan baik kembali.

Terbentuknya telur-telur yang menghasilkan individu jantan dirangsang oleh :
1. Melimpahnya individu betina yang mengakibatkan akumulasi hasil ekspresi
2. Berkurangnya makanan yang tersedia
3. Menurunnya suhu air dari 25-30 menjadi 14-17 0 C

Kondisi-kondisi tersebut dapat mengubah metabolisme Daphnia sp. sehingga dapat mempengaruhi mekanisme kromosomnya. Di daerah tropis, Daphnia sp. yang didatangkan dari daerah subtropis seringkali juga membentuk efipia pada musim kemarau. Daphnia sp. dewasa berukuran 2,5 mm anak pertama sebesar 0,8 mm dihasilkan secara parthenogenesis. Daphnia sp. mulai menghasilkan anak pertama kali pada umur 4-6 hari. Pada lingkungan yang bersuhu antara 22 – 31 0 C pH antara 6,6 – 7,4 Daphnia sp. sudah menjadi dewasa dalam waktu empat hari dengan umur yang dapat dicapai hanya 12 hari. Setiap satu atau dua hari sekali, Daphnia sp. akan beranak 29 ekor. Jadi selama hidupnya hanya dapat beranak tujuh kali dengan jumlah yang dihasilkan 200 ekor. Selama hidupnya Daphnia sp. mengalami empat periode yaitu telur, anak, remaja dan dewasa.

Daphnia mulai beranak setelah berumur lima hari. Selanjutnya, daphnia yang berumur 34 hari ini akan terus beranak dengan selisih waktu rata – rata satu hari sekali. Jumlah anak yang dihasilkan daphnia sekali keluar mencapai 39 ekor / hari. Kondisi suhu perairan yang ideal untuk perkembanganbiakan daphnia adalah 26 - 30°C dan pH-nya 6,5 – 7,5. Kutu air biasa di ambil dengan saringan (seser) dari bahan kain yang tipis agar tidak banyak lolos. Sebelum diberikan kepada ikan, kutu air perlu dikarantina terlebih dahulu agar tidak terkontaminasi penyakit karenatidak jarang kutu air membawa patogen yang banyakterdapat diselokan atau di perairan umum lainnya. Karantina terhadap kutu air dapat dilakukan dengan merendamnya selama 1- 2 hari kedalam wadah yang berisi air. Setelah itu kutu air aman diberikan kepada ikan hias.

Masa pakai Daphnia, dari rilis telur ke ruang anak-anak sampai kematian orang dewasa, sangat bervariasi tergantung pada spesies dan kondisi lingkungan. Umumnya meningkat umur sebagai terjadi penurunan suhu, karena aktivitas metabolik diturunkan. Rentang hidup rata-rata D. magna adalah sekitar 40 hari pada 25 o C dan sekitar 56 hari pada 20 o C. Masa hidup rata-rata pulex Daphnia pada 20 o C adalah sekitar 50 hari. Empat periode yang berbeda dapat diakui dalam sejarah kehidupan Daphnia: (1) telur, (2) remaja, (3) remaja dan (4) dewasa. Biasanya, sebuah kopling dari 6 atau 10 telur dilepaskan ke ruang anak-anak. Telur menetas di kamar anak-anak dan remaja, yang sudah mirip bentuk untuk orang dewasa, yang dirilis pada sekitar dua hari ketika molts perempuan (cetakan dari exoskeleton nya). Waktu yang diperlukan untuk mencapai jatuh tempo bervariasi 6-10 hari. Daphnia biasanya menginvestasikan sebagian besar energi mereka dalam reproduksi (magna D. 69%, D. pulex 67%), sedangkan mereka berinvestasi dalam pertumbuhan yang kecil (23%). Ini berfungsi untuk menyorot penekanan berat pada reproduksi yang cepat untuk mengambil keuntungan dari kondisi yang baik.

Kutu air cukup baik digunakan untuk memacu pertumbuhan benih ikan mengandung 66% protein dan 8% lemak. Selain itu, kutu air juga banyak mengandung pigmen astaxanthin. Pigmen ini bersifat mencermelangkan dan memekatkan warna ikan hias. Kutu air juga bermanfaat meningkatkan produksi dan kualitas telur yang dihasilkan ikan dewasa (Bachtiar, dkk. 2008).

4. Pemberian Pakan pada Daphnia

Daphnia memakan berbagai macam bakteri, ragi, alga bersel tunggal, dan detritus. Bakteri dan fungi menduduki urutan teratas dari nilai nutrisi baginya. Sedangkan makanan utama bagi Daphnia adalah alga dan protozoa. Daphnia mengambil makanannya dengan cara menyaring makanan atau “filter feeding”. Gerakan yang kompleks dari kaki-kaki toraks menghasilkan arus air yang konstan. Gerakan kaki-kaki tersebut berperan penting dalam proses pengambilan makanan. Pasangan kaki ketiga dan ke empat dipakai untuk menyaring makanan, sedang kaki pertama dan kedua digunakan untuk menimbulkan arus air sehingga partikel-partikel tersuspensi bergerak ke arah mulut. Partikel-partikel makanan yang tertahan kemudian tersaring oleh setae, selanjutnya digerakan ke bagian mulut dan ditelan oleh Daphnia.

· Mikro alga dikonsumsi dalam jumlah besar oleh Daphnia, dan kelimpahan daphnia biasanya sebanding dengan kepadatan ganggang. Keunggulan alga sebagai makanan adalah bahwa sangat mudah untuk budaya dan sangat baik untuk pertumbuhan daphnia. Tidak ada kerugian benar-benar, selain fakta bahwa ia membutuhkan perawatan harian / pembaharuan.

· Ragi
Ada dua jenis ragi yang umum kita perlu prihatin - aktif dan tidak aktif. Diaktifkan ragi umumnya makanan yang lebih baik untuk pakan karena tidak akan busuk air secepat / sebanyak jenis aktif. Tukang roti, bir, dan hampir semua jenis ragi yang cocok untuk budaya daphnia, tapi direkomendasikan bahwa tidak lebih dari setengah ons ragi per lima galon air diberi makan setiap lima hari. Jika Anda menggunakan ragi, terutama ragi yang tidak aktif, pertimbangkan untuk menambahkan beberapa alga pada air ketika ini akan menghadapi segala fouling yang mungkin hasil dari menambahkan ragi tidak aktif (ini tidak begitu penting dengan ragi diaktifkan).

Keuntungan dari ragi sebagai makanan adalah bahwa itu mudah untuk memperoleh, dan ada minimum rewel ketika mempersiapkan untuk budaya. Kerugian hanya sedikit adalah bahwa itu tidak cukup sebagai makanan yang baik sebagai alga (daphnia kebutuhan untuk mengkonsumsi lebih berat ragi dari ganggang untuk mendapatkan nilai makanan yang sama). Namun, ragi jauh lebih baik daripada makanan lain kecuali beberapa bakteri, yang hampir sama tinggi nilai makanan.

· Bakteri - bakteri

Bakteri memiliki nilai makanan mirip dengan jamur, namun mereka umumnya lebih cepat daripada mereproduksi jamur dan ganggang, meskipun nilai makanan tidak cenderung tinggi. Dengan mengambil 5-6 ons kering kuda, sapi atau kotoran kambing kering dan mengikatnya di dalam tas nilon (seperti stoking / pantyhose), dan menggantung ini dalam air dengan. Biasanya, air akan keruh setelah beberapa waktu, menunjukkan bahwa bakteri yang mulai berkembang biak. Ini harus diubah sekali seminggu untuk efek maksimum. Cara lain adalah dengan merendam kotoran selama berminggu-minggu sampai terurai menjadi bubur nutrisi, kemudian cairan menetes ke tangki pada tingkat 16 ons cairan per 5-8 hari.
Bakteri merupakan sumber makanan yang baik, dan mudah diperoleh / dibudidayakan. Satu-satunya downside adalah masalah bau busuk (yang bisa sangat buruk). Suatu hal yang penting untuk diingat adalah bahwa kotoran kuda biasanya berisi tetanus (juga bakteri), sehingga perlu hati-hati saat memegang itu (pastikan tidak memiliki luka terbuka / luka di tangan atau lengan).

· Makanan lainnya

Ini termasuk dedak, tepung gandum, dan darah kering. Hal ini harus dianggap sama dengan ragi tidak aktif, dan jumlah yang sama dan perawatan harus dilakukan ketika. Satu-satunya perbedaan yang nyata adalah bahwa nilai makanan tidak setinggi berat sesuai ragi.

5. Pemeliharaan

Pemeliharaan daphnia bisa dilakukan dalam skala kecil maupun besar, perbedaan skala ini akan berpengaruh pada penggunaan wadah sebagai tempat pemeliharaannya.

  1. Pemeliharaan Skala Kecil

Wadah yang digunakan dalam pemeliharaan daphnia skala kecil yaitu aquarium, fiber glass berukuran 25 liter, atau ember. Sebelum digunakan, wadah tersebut perlu dicuci dengan detergen, kemudian dikeringkan. Air tawar sebagai media hidup daphnia dimasukkasn ke dalam akuarium atau fiber glass hingga mencapai 80 – 90 % dari ketinggian wadah. Un tuk menumbuhkan pakan alami daphnia (berupa diatom), perlu dimasukkan pupuk kandang dengan dosis 1 – 5 gr per liter air. Setelah 4 – 5 hari, diatom akan tumbuh yang terlihat bewarna kecoklatan. Pada hari ke- 5, bibit daphnia bisa dimasukkan ke dalam aquarium atau fiber glass.

  1. Pemeliharaan Skala Besar

Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan daphnia dalam skala besar yaitu bak semen atau fiber glass berukuran 1 ton. Adapun tahapan dalam pemeliharaan daphnia skala besar adalah sebagai berikut.

· Sebelum digunakan, cuci bak semen atau fiber glass dengan detergen dan keringkan.

· Masukkan air tawar bersih hingga mencapai 80 – 90% dari volumenya.

· Tambahkan aerasi untuk menjaga kontinuitas suplai oksigen.

· Campurkan 2 - 5 gr pupuk kandang ayam dan 0,2 gr tepung bungkil kelapa per 1 liter air. Masukkan campuran tersebut ke dalam kain strimin dan gantung didalam air. Setelah basah, remas bungkusan tersebut hingga ekstrak pupuk keluar.

· Sehari setelah pemupukan, tebarkan bibit daphnia ke dalam bak semen atau fiber glass dengan kepadatan penebaran 10 - 20 ekor per liter air.

· Pemupukan perlu dilakukan secara rutin setiap 7 – 8 hari sekali. Namun, dosis yang digunakan hanya setengah dari dosis pemupukan pertama.

6. Pemanenan

Tata cara pemanenan daphnia dilakukan sebagai berikut.

a. Setelah 7 – 8 hari, daphnia sudah bisa di panen. Untuk menjaga kontinuitas produksi, pemanenan bisa dilakukan secara bertahap. Pemanenan bisa dilakukan dengan serok berukuran mata jaring 1,5 – 2 mm. Dengan ukuran ini, hanya daphnia berukuran besar yang terbawa, sedangkan yang berukuran kecil tetap berada dalam air hingga pertumbuhannya mencapai ukuran siap panen.

b. Jika stok daphnia berlebih, bisa dilakukan pengawetan dengan cara dimasukkan ke dalam freezer. Sebelum dimasukkan dalam frezeer, bungkus daphnia dengan plastik kedap udara.